Showing posts with label Headline News. Show all posts
feature, Headline News, Sosok
MENJADI juara sudah cita-cita setiap atlet. Medali adalah target yang dikejar dalam setiap kompetisi. Begitu juga halnya dengan Surahmat.
Atlet angkat besi Aceh ini, kembali menyumbang medali untuk tanah rencong. Saat tampil di Gymnasium Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa(20/9) di mencatat total angkatan 255 kg.
Lifter "naturalisasi" ini merebut medali emas cabang olahraga angkat besi kelas 56 kg PON 2016 Jawa Barat. Raihan emas yang diraihnya menjadi kepingan dalam catatan sejarah selama 27 Aceh tampil di PON.
Setelah hampir tiga dekade ikut PON, baru kali ini Aceh menoreh catatan apik dalam perolehan medali. Surahmat ikut bangga menjadi salah satu penyumbangnya.
"Saya ikut bangga bisa menyumbang medali ini," ujar lifter kelahiran Blora 11 Mei 1988 kepada Waspada, dalam penerbangan pulang dari Bandung ke Banda Aceh, akhir pekan kemarin.
Pada PON XVIII di Riau pada 2012, atlet yang lahir dari pasutri Sunoto dengan Sumini ini juga menyumbang potongan medali perak. "Alhamdulillah, ada peningkatan," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Prestasinya tak sebatas di PON. Ada sederet prestasi yang direngkuh peraih perak Universiade Kazan XXVII 2013 di Kazan, Rusia. Lalu, dia masuk delapan besar Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Saat itu Surahmat menempati rangking 13 dunia dengan rekor tertinggi angkatan 263 Kg di Korsel. Tampil dalam Kejuaraan Dunia di Kazakhstan 2015.
"Masuk 13 besar dari 31 peserta. Saat di Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Amerika Serikat masuk 10 besar," ujar peraih medali perak di PON XVIII Riau ini.
Sebelum berangkat ke Bandung, Surahmat punya suntikan semangat ekstra. Pemacu adrenalin saat tanding itu tak lain kelahiran anak pertama jenis kelamin laki-laki yang diberi nama Sulthan Abizard Rahmat.
"Alhamdulillah, anak juga menjadi penambah semangat saya saat berangkat ke Bandung," ungkap Rahmat seraya menyebut anaknya lahir pada 13 September 2016 lalu.
Buah hati pertamanya itu lahir dari rahim Nurlaili, perempuan Simpang Ulim, Aceh Timur yang disuntingnya pada 12 Februari 2015.
Eforia sudah berlalu. Kini, Rahmat ingin menikmati juara bersama anak dan istri tercintanya. Karena itulah dia sudah berencana membeli sebuah rumah dari bonus Rp250 juta yang bakal diterimanya dari KONI Aceh.
Makanya, dia tak ingin lama-lama lagi menikmati kemenangan. "Insha Allah, rencana saya begitu, memberi rumah untuk masa depan anak-anak dari kumpulan uang-uang bonus," jelas Rahmat.
Usai PON, katanya, ia akan alihkan fokus ke Sea Games, apalagi Pelatnas pada Januari nanti. "Paling-paling istirahat seminggu, setelah itu latihan lagi. Kalau tak latihan kontinyu bisa-bisa rusak angkatan," ungkapnya.
Bukan hanya latihan yang kontinyu, tapi porsi makanan juga wajib dijaga. Pagi tujuh butir telor, siang empat potong daging ayam dan malam 4-5 potong daging sapi.
"Biasanya beberapa bulan menjelang turun di kompetisi, porsi makanan, suplemen dan latihan disesuaikan," tutup lifter yang juga pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh ini.
Atlet angkat besi Aceh ini, kembali menyumbang medali untuk tanah rencong. Saat tampil di Gymnasium Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa(20/9) di mencatat total angkatan 255 kg.
Lifter "naturalisasi" ini merebut medali emas cabang olahraga angkat besi kelas 56 kg PON 2016 Jawa Barat. Raihan emas yang diraihnya menjadi kepingan dalam catatan sejarah selama 27 Aceh tampil di PON.
Setelah hampir tiga dekade ikut PON, baru kali ini Aceh menoreh catatan apik dalam perolehan medali. Surahmat ikut bangga menjadi salah satu penyumbangnya.
"Saya ikut bangga bisa menyumbang medali ini," ujar lifter kelahiran Blora 11 Mei 1988 kepada Waspada, dalam penerbangan pulang dari Bandung ke Banda Aceh, akhir pekan kemarin.
Pada PON XVIII di Riau pada 2012, atlet yang lahir dari pasutri Sunoto dengan Sumini ini juga menyumbang potongan medali perak. "Alhamdulillah, ada peningkatan," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Prestasinya tak sebatas di PON. Ada sederet prestasi yang direngkuh peraih perak Universiade Kazan XXVII 2013 di Kazan, Rusia. Lalu, dia masuk delapan besar Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Saat itu Surahmat menempati rangking 13 dunia dengan rekor tertinggi angkatan 263 Kg di Korsel. Tampil dalam Kejuaraan Dunia di Kazakhstan 2015.
"Masuk 13 besar dari 31 peserta. Saat di Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Amerika Serikat masuk 10 besar," ujar peraih medali perak di PON XVIII Riau ini.
Sebelum berangkat ke Bandung, Surahmat punya suntikan semangat ekstra. Pemacu adrenalin saat tanding itu tak lain kelahiran anak pertama jenis kelamin laki-laki yang diberi nama Sulthan Abizard Rahmat.
"Alhamdulillah, anak juga menjadi penambah semangat saya saat berangkat ke Bandung," ungkap Rahmat seraya menyebut anaknya lahir pada 13 September 2016 lalu.
Buah hati pertamanya itu lahir dari rahim Nurlaili, perempuan Simpang Ulim, Aceh Timur yang disuntingnya pada 12 Februari 2015.
Eforia sudah berlalu. Kini, Rahmat ingin menikmati juara bersama anak dan istri tercintanya. Karena itulah dia sudah berencana membeli sebuah rumah dari bonus Rp250 juta yang bakal diterimanya dari KONI Aceh.
Makanya, dia tak ingin lama-lama lagi menikmati kemenangan. "Insha Allah, rencana saya begitu, memberi rumah untuk masa depan anak-anak dari kumpulan uang-uang bonus," jelas Rahmat.
Usai PON, katanya, ia akan alihkan fokus ke Sea Games, apalagi Pelatnas pada Januari nanti. "Paling-paling istirahat seminggu, setelah itu latihan lagi. Kalau tak latihan kontinyu bisa-bisa rusak angkatan," ungkapnya.
Bukan hanya latihan yang kontinyu, tapi porsi makanan juga wajib dijaga. Pagi tujuh butir telor, siang empat potong daging ayam dan malam 4-5 potong daging sapi.
"Biasanya beberapa bulan menjelang turun di kompetisi, porsi makanan, suplemen dan latihan disesuaikan," tutup lifter yang juga pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh ini.
Sumber: Waspapda
Headline News
Sementara 998 orang lulusan lainnya akan akan diwisuda pada hari Kamis (27/8) hari ini.
Informasi yang diperoleh Waspada, dari 1.900 wisudawan tersebut, 222 orangnya merupakan lulusan Pascasarjana, 36 orang lulusan Pendidikan Profesi, 1 orang lulusan Program Spesialis, 1.485 orang lulusan sarjana (S1), serta 156 orang lulusan Diploma III.
Dalam sambutannya Rektor Unsyiah, Samsul Rizal juga memberikan apresiasi yang tinggi, terhadap 251 orang lulusan Unsyiah yang berhasil meraih tingkat yudisium cumlaude (pujian) pada upacara wisuda kali ini, di mana 154 orang diwisuda pada hari pertama ini.
Berdasarkan jumlah tersebut, maka persentase lulusan yang lulus dengan yudisium cumlaude pada priode Mei – Juli 2015 ini, meningkat tajam menjadi 13,2 persen, dibandingkan dengan dua periode sebelumnya yang persentasenya hanya 7,5 – 9,1 persen.
Pada kesempatan tersebut Rektor juga mengungkapkan, Unsyiah terus berkomitmen untuk meningkatkan kapasitasnya, demi mempersembahkan pelayanan terbaik untuk dunia pendidikan, khususnya di Aceh. "Bukti nyata dari komitmen tersebut adalah, Unsyiah berhasil mendapatkan nilai akriditasi A," ungkap Samsul.
Rektor menambahkan, nilai akreditasi institusi, nilai akreditasi program studi, serta pencitraan publik Unsyiah selama ini secara umum kian membaik. Kata dia, ini menjadi salah satu faktor yang sangat mempermudah jalan para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka.
“Oleh karena itulah, saya sangat rasa berterima kasih kepada masyarakat sehingga Unsyiah telah berkembang menjadi semakin inovatif, semakin mandiri, dan semakin terkemuka,” ujar Rektor.
Kepada para wisudawan, Rektor juga berpesan untuk terus meningkatkan kompetensinya. Salah satu kompetensi yang sangat penting di zaman sekarang adalah kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, mengembangkan kemandirian dan kreatifitas, dengan berbekal dasar keilmuan yang telah diperoleh selama di perguruan tinggi.
Kata Rektor, Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi memberikan peluang yang sangat luas kepada mahasiswa untuk mengasah kompetensi ini secara kompetitif melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).
“Alhamdulillah, tahun ini sebanyak 47 judul PKM dari Unsyiah lolos dan mendapatkan pembiayaan dari Dikti, dan 10 di antaranya bahkan diundang ke ajang bergengsi, Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) di Sulawesi Tenggara,” ungkap Rektor Unsyiah.
Headline News
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melakukan terobosan baru dalam menerapkan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) dan Pengabdian Dosen. Mulai tahun ini, mereka akan menerapkan KMP berbasis masjid yang akan berlangsung selama tiga bulan.
Hal itu diungkapkan, Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA yang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UIN Ar-Raniry Dr. H. Muhibbuthabry, M.Ag dalam arahannya pada pembekalan KPM berbasis Masjid, Senin (24/8).
“Kita terus melakukan upaya perubahan-perubahan setelah alih status IAIN ke Universitas, integrasi ini adalah memberikan peluang untuk melakukan pengabdian dengan keilmuan yang luas, salah satunya pengabdian berbasis masjid ini,” ujarnya.
Warek I menambahkan, KPM dan Pengabdian Dosen berbasis masjid ini sangat tepat dilaksanakan, karena masjid-masjid di Aceh merupakan sebagai central bagi masyarakat Aceh, baik dalam beribadah maupun kegiatan keagaamaan lainnya.
Menurutnya, KPM yang dilakukan UIN selama ini sudah tepat dan dapat diimplementasikan dengan karakteristik UIN yang berbasis keislaman. Oleh karena itu, nantinya diharapkan peserta dapat membangun masyarakat dengan spirit spritualitas dan aspek kesejahteraan.
“Peserta yang akan melakukan pengabdian ini terdiri dari berbagai prodi di UIN Ar-Raniry, dengan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki dapat membimbing masyarakat sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang telah dimiliki selama di bangku kuliah,” ujar Muhibbuthabry.
Dalam kesempatan yang sama Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat Drs. M. Jakfar Puteh, M.Pd menambahkan KPM dan Pengabdian Dosen ini merupakan yang pertama dilaksanakan di UIN Ar-Raniry.
“KPM dan Pengabdian dosen ini dilaksanakan secara bersamaan, dimana para dosen yang melakukan pengabdian sekaligus akan menjadi pendamping bagi mahasiswa KPM dan Masyarakat dalam melaksanakan berbagai program di gampong-gampong nantinya,” paparnya.
Disebutkan, peserta pengabdian berbasis masjid ini berjumlah 175 orang, terdiri 130 mahasiswa dan 45 dosen pembimbing, mereka akan ditempatkan pada lima gampong di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar yaitu gampong Alue Naga, Rukoh, Tibang, Limpok, Tanjong Selamat, Barabung, Baet, Cadek dan Blang Kreung, peserta KPM akan berada di gampong pengabdian selama tiga bulan.
Peserta pengabdian masyarakat direncanakan akan diantar langsung oleh Rektor UIN pada 27 Agustus 2015 mendatang.
Hal itu diungkapkan, Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA yang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UIN Ar-Raniry Dr. H. Muhibbuthabry, M.Ag dalam arahannya pada pembekalan KPM berbasis Masjid, Senin (24/8).
“Kita terus melakukan upaya perubahan-perubahan setelah alih status IAIN ke Universitas, integrasi ini adalah memberikan peluang untuk melakukan pengabdian dengan keilmuan yang luas, salah satunya pengabdian berbasis masjid ini,” ujarnya.
Warek I menambahkan, KPM dan Pengabdian Dosen berbasis masjid ini sangat tepat dilaksanakan, karena masjid-masjid di Aceh merupakan sebagai central bagi masyarakat Aceh, baik dalam beribadah maupun kegiatan keagaamaan lainnya.
Menurutnya, KPM yang dilakukan UIN selama ini sudah tepat dan dapat diimplementasikan dengan karakteristik UIN yang berbasis keislaman. Oleh karena itu, nantinya diharapkan peserta dapat membangun masyarakat dengan spirit spritualitas dan aspek kesejahteraan.
“Peserta yang akan melakukan pengabdian ini terdiri dari berbagai prodi di UIN Ar-Raniry, dengan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki dapat membimbing masyarakat sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang telah dimiliki selama di bangku kuliah,” ujar Muhibbuthabry.
Dalam kesempatan yang sama Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat Drs. M. Jakfar Puteh, M.Pd menambahkan KPM dan Pengabdian Dosen ini merupakan yang pertama dilaksanakan di UIN Ar-Raniry.
“KPM dan Pengabdian dosen ini dilaksanakan secara bersamaan, dimana para dosen yang melakukan pengabdian sekaligus akan menjadi pendamping bagi mahasiswa KPM dan Masyarakat dalam melaksanakan berbagai program di gampong-gampong nantinya,” paparnya.
Disebutkan, peserta pengabdian berbasis masjid ini berjumlah 175 orang, terdiri 130 mahasiswa dan 45 dosen pembimbing, mereka akan ditempatkan pada lima gampong di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar yaitu gampong Alue Naga, Rukoh, Tibang, Limpok, Tanjong Selamat, Barabung, Baet, Cadek dan Blang Kreung, peserta KPM akan berada di gampong pengabdian selama tiga bulan.
Peserta pengabdian masyarakat direncanakan akan diantar langsung oleh Rektor UIN pada 27 Agustus 2015 mendatang.
Headline News
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengharamkan digelarnya berbagai bentuk orientasi pengenalan kampus bernuansa perploncoan oleh mahasiswa senior. Kendati begitu, Unsyiah akan menggelar Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (Pakarmaru).
Kepala Humas Unsyiah, DR Ilham Maulana kepada Waspada, Minggu (23/8) mengatakan Pakarmaru, digelar untuk dipersiapkan karakter mahasiswa agar siap memasuki dunia
perkuliahan. "Pakarmaru digelar melalui bidang kemahasiswaan yang berada di bawah pembantu rektor III," kata Ilham.
Disebutkan, tahun lalu, Pakarmaru juga digelar untuk menggantikan ospek terhadap mahasiswa baru. "Pakarmaru wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru tahun ini," ungkap dia.
Kata dia, pelaksanaan Pakarmaru 2015 akan berlangsung selama tiga hari sejak 29-31 Agustus 2015 dan akan berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam.
Sebelumnya, dalam sebuah kesempatan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan kegiatan ini sebagai bagian dari pengenalan Unsyiah, khususnya yang terkait dengan proses perkuliahan dan pembentukan karakter yang positif bagi mahasiswa.
“Para mahasiswa nantinya akan mendapatkan ulasan materi dari tokoh-tokoh hebat. Tahun sebelumnya, mahasiswa mendapat pembekalan langsung dari Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, serta pejabat pemerintah Aceh dan Unsyiah. Selain itu, ada juga kegiatan yang diisi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan motivasi dari tim ESQ," ujarnya.
Rektor menyebutkan, melalui Pakarmaru mahasiswa juga diharapkan mampu mengenal kampus, baik mengenai kegiatan akademik yang bersifat kurikuler atau ekstrakurikuler.
Menurut rektor, kegiatan tahunan ini akan diikuti oleh 12 fakultas di lingkungan Unsyiah yang dibagi atas tiga kelompok. Hari pertama akan diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kelautan dan Perikanan. Kemudian hari kedua diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Teknik, FISIP, FMIPA, dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sedangkan hari terakhir diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran, FKIP, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Keperawatan.
“Sebagaimana tahun lalu, tahun ini diperkirakan ribuan mahasiswa akan ikut dalam kegiatan akademik ini. Mahasiswa yang lulus PAKARMARU nantinya akan diberikan sertifikat,” papar Samsul.
Kepala Humas Unsyiah, DR Ilham Maulana kepada Waspada, Minggu (23/8) mengatakan Pakarmaru, digelar untuk dipersiapkan karakter mahasiswa agar siap memasuki dunia
perkuliahan. "Pakarmaru digelar melalui bidang kemahasiswaan yang berada di bawah pembantu rektor III," kata Ilham.
Disebutkan, tahun lalu, Pakarmaru juga digelar untuk menggantikan ospek terhadap mahasiswa baru. "Pakarmaru wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru tahun ini," ungkap dia.
Kata dia, pelaksanaan Pakarmaru 2015 akan berlangsung selama tiga hari sejak 29-31 Agustus 2015 dan akan berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam.
Sebelumnya, dalam sebuah kesempatan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mengatakan kegiatan ini sebagai bagian dari pengenalan Unsyiah, khususnya yang terkait dengan proses perkuliahan dan pembentukan karakter yang positif bagi mahasiswa.
“Para mahasiswa nantinya akan mendapatkan ulasan materi dari tokoh-tokoh hebat. Tahun sebelumnya, mahasiswa mendapat pembekalan langsung dari Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, serta pejabat pemerintah Aceh dan Unsyiah. Selain itu, ada juga kegiatan yang diisi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan motivasi dari tim ESQ," ujarnya.
Rektor menyebutkan, melalui Pakarmaru mahasiswa juga diharapkan mampu mengenal kampus, baik mengenai kegiatan akademik yang bersifat kurikuler atau ekstrakurikuler.
Menurut rektor, kegiatan tahunan ini akan diikuti oleh 12 fakultas di lingkungan Unsyiah yang dibagi atas tiga kelompok. Hari pertama akan diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kelautan dan Perikanan. Kemudian hari kedua diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Teknik, FISIP, FMIPA, dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sedangkan hari terakhir diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran, FKIP, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Keperawatan.
“Sebagaimana tahun lalu, tahun ini diperkirakan ribuan mahasiswa akan ikut dalam kegiatan akademik ini. Mahasiswa yang lulus PAKARMARU nantinya akan diberikan sertifikat,” papar Samsul.
Headline News
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue dalam bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA dan Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS berlangsung pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda semester genap TA 2014/2014, Sabtu (22/8) di Auditorium Prof Ali Hasjmy Banda Aceh.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh membuka peluang kepada semua pihak yang ingin melakukan kerja sama, kali ini pemerintah Kabupaten Simeulue sepakat untuk menandatangani naskah kerjasama dengan UIN Ar-Raniry yang dilaksanakan dalam prosesi wisuda UIN tahun 2015.
“UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Simeulue, penandatanganan MoU ini telah lama direncanakan namun baru terlaksana hari ini dan dilakukan pada acara resmi yaitu dalam Rapat Senat Terbuka,” ujar Farid.
Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Simeulue dan mereka menerimanya dengan baik, pada tahun 2015 ini UIN Ar-Raniry memberikan perhatian khusus kepada putra-puteri Simeulue saat masuk ke UIN Ar-Raniry, sehingga mereka dapat menimba ilmu di UIN Ar-Raniry.
Selanjutnya kata Farid, UIN Ar-Raniry juga memberikan perhatian kepada masyarakat di Kabupaten Simeulue, misalnya mengikirimkan dosen dalam program pengabdian masyarakat, biasanya berlangsung selama 20-30 hari berada di daerah, ke depan juga akan ada pengabdian mahasiswa dalam bentuk KPM yang akan ditempatkan di Simeulue.
Sementara itu Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS mengatakan, atas nama pemerintah dan masyarakat Simeulue memberikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan kerjasama yang diawali dengan penandatanganan naskah kerjasama antara UIN Ar-Raniry dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue.
“Alhamdulillah ke depan kita harapkan putera-puteri dari Kabupaten Simeulue lebih banyak mendapat kesempatan untuk dapat menuruskan pendidikannya di UIN Ar-Raniry ini, dalam tiga tahun terakhir ini disambut baik program-program oleh Rektor UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Riswan menyebutkan, tahun ini ada 115 orang putera-puteri dari Kabupaten Simeulue yang mengikuti tes masuk ke UIN Ar-Raniry, 106 diantaranya lulus seleksi, selebihnya ada yang diberi kesempatan lulus rekomendasi ke prodi-prodi tertentu, serta sebagian lainnya nilai nya masih dibawah standar.
“Kita sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pimpinan UIN Ar-Raniry, dan ini kesempatan yang sangat luar biasa bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Simeulue,” demikian Riswan.
Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA dan Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS berlangsung pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda semester genap TA 2014/2014, Sabtu (22/8) di Auditorium Prof Ali Hasjmy Banda Aceh.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh membuka peluang kepada semua pihak yang ingin melakukan kerja sama, kali ini pemerintah Kabupaten Simeulue sepakat untuk menandatangani naskah kerjasama dengan UIN Ar-Raniry yang dilaksanakan dalam prosesi wisuda UIN tahun 2015.
“UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Simeulue, penandatanganan MoU ini telah lama direncanakan namun baru terlaksana hari ini dan dilakukan pada acara resmi yaitu dalam Rapat Senat Terbuka,” ujar Farid.
Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Simeulue dan mereka menerimanya dengan baik, pada tahun 2015 ini UIN Ar-Raniry memberikan perhatian khusus kepada putra-puteri Simeulue saat masuk ke UIN Ar-Raniry, sehingga mereka dapat menimba ilmu di UIN Ar-Raniry.
Selanjutnya kata Farid, UIN Ar-Raniry juga memberikan perhatian kepada masyarakat di Kabupaten Simeulue, misalnya mengikirimkan dosen dalam program pengabdian masyarakat, biasanya berlangsung selama 20-30 hari berada di daerah, ke depan juga akan ada pengabdian mahasiswa dalam bentuk KPM yang akan ditempatkan di Simeulue.
Sementara itu Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS mengatakan, atas nama pemerintah dan masyarakat Simeulue memberikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan kerjasama yang diawali dengan penandatanganan naskah kerjasama antara UIN Ar-Raniry dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue.
“Alhamdulillah ke depan kita harapkan putera-puteri dari Kabupaten Simeulue lebih banyak mendapat kesempatan untuk dapat menuruskan pendidikannya di UIN Ar-Raniry ini, dalam tiga tahun terakhir ini disambut baik program-program oleh Rektor UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Riswan menyebutkan, tahun ini ada 115 orang putera-puteri dari Kabupaten Simeulue yang mengikuti tes masuk ke UIN Ar-Raniry, 106 diantaranya lulus seleksi, selebihnya ada yang diberi kesempatan lulus rekomendasi ke prodi-prodi tertentu, serta sebagian lainnya nilai nya masih dibawah standar.
“Kita sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pimpinan UIN Ar-Raniry, dan ini kesempatan yang sangat luar biasa bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Simeulue,” demikian Riswan.
Headline News
Dua uversitas di Aceh yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry secara resmi menjalin kerja sama dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Trengganu Malaysia dalam bidang pendidikan.
Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dan Rektor UIN Prof De Farid Wajdy dengan Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim.
Prosesi penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di masing-masing kampus, , Rabu (19/8) pada waktu yang berbeda. "Kerjasama dengan universitas kerajaan Malaysia ini adalah awal dari kemajuan peradaban pendidikan, terutama pendidikan Islam, mengingat UniSZA berlatar kampus Islam," kata Prof. Samsul dalam kata sambutannya.
Kata dia, selama ini Unsyiah sudah kerap menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) seperti join seminar setiap tahun. Selain itu, ada juga kerjasama berupa konsorsium ilmu pendidikan dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia.
Sementara itu, Prof. Yahaya mengaku, UniSZA saat ini merupakan salah satu kampus favorit yang terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Mahasiswa di UniSZA berasal dari multi etnis, bahkan ada mahasiswa dari luar negeri seperti Kazakhstan dan beberapa negara ASEAN.
“Letak kampus UniSZA hampir sama dengan Aceh, karena diapit oleh lautan. Jadi, penghasilan terbesar masyarakat Trengganu berasal dari sektor perikanan,” ujar Guru Besar dari UKM tersebut.
Menurutnya, jumlah mahasiswa di UniSZA sekarang berkisar 9 ribu orang. Dan tahun depan akan bertambah menjadi 10 ribu orang. Bahkan, tambahnya, pelajar dari Palestina dapat berkuliah gratis di UniSZA tanpa dipungut biaya apapun.
"Kami ingin membantu seluruh pelajar di seluruh penjuru dunia. Kolaborasi dengan Unsyiah ini juga bagian dari itu. Namun, kami masih membutuhkan tenaga pengajar untuk bidang farmasi dan medis," ungkap dia.
Pada hari yang sama, Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim juga menjalin kerjasama dengan UIN Ar-Raniry. “Kita berharap dengan penandatanganan nasakah kerjasma ini, UIN dan UnisZA dapat menghasil program-program pendidikan yang mengedepankan mutu dan kualitas,” imbuh Datuk Yahya.
Sedang Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA menyebutkan baik kerjasama itu. “UIN Ar-Raniry Aceh ini terus meningkatkan hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus luar negeri, khusus dengan kampus di Malaysia telah dilakukan beberapa bidang kerjasama dengan berbagai kampus yang ada di Malaysia,” ujarnya.
Kata dia, hubungan antara Aceh dengan Malaysia telah lama terjalin, begitu halnya dengan kampus Ar-Raniry ini, sejak tahun 1980 telah ada mahasiswa yang berasal dari Malaysia. "Itu artinya Kampus Ar-Raniry ini telah menjalin hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus di Malaysia sejak sebelum tahun 80-an," sebut dia.
Farid menyebutkan, beberapa bulan lalu UIN menerima mahasiswa dari Malaysia yang di lakukan dengan dua jalur, yaitu jalur transfer di mana mahasiswa melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, dan jalur kedua mereka mengikuti tes untuk masuk mulai semester pertama, tes telah dilaksanakan di Malaysia dan diikuti oleh lebih kurang 16 sekolah menengah yang ada di Malaysia.
“Hubungan UIN Ar-Raniry dan Aceh dengan Malaysia bukan lah hal yang baru, oleh karena itu setiap pertemuan dan silaturrahim yang dilakukan oleh UIN Insyaallah aka nada tindak lanjut, sehingga ke depan dapat ditingkatkan kerjasama," sebut dia. [mnw]
Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dan Rektor UIN Prof De Farid Wajdy dengan Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim.
Prosesi penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di masing-masing kampus, , Rabu (19/8) pada waktu yang berbeda. "Kerjasama dengan universitas kerajaan Malaysia ini adalah awal dari kemajuan peradaban pendidikan, terutama pendidikan Islam, mengingat UniSZA berlatar kampus Islam," kata Prof. Samsul dalam kata sambutannya.
Kata dia, selama ini Unsyiah sudah kerap menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) seperti join seminar setiap tahun. Selain itu, ada juga kerjasama berupa konsorsium ilmu pendidikan dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia.
Sementara itu, Prof. Yahaya mengaku, UniSZA saat ini merupakan salah satu kampus favorit yang terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Mahasiswa di UniSZA berasal dari multi etnis, bahkan ada mahasiswa dari luar negeri seperti Kazakhstan dan beberapa negara ASEAN.
“Letak kampus UniSZA hampir sama dengan Aceh, karena diapit oleh lautan. Jadi, penghasilan terbesar masyarakat Trengganu berasal dari sektor perikanan,” ujar Guru Besar dari UKM tersebut.
Menurutnya, jumlah mahasiswa di UniSZA sekarang berkisar 9 ribu orang. Dan tahun depan akan bertambah menjadi 10 ribu orang. Bahkan, tambahnya, pelajar dari Palestina dapat berkuliah gratis di UniSZA tanpa dipungut biaya apapun.
"Kami ingin membantu seluruh pelajar di seluruh penjuru dunia. Kolaborasi dengan Unsyiah ini juga bagian dari itu. Namun, kami masih membutuhkan tenaga pengajar untuk bidang farmasi dan medis," ungkap dia.
Pada hari yang sama, Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim juga menjalin kerjasama dengan UIN Ar-Raniry. “Kita berharap dengan penandatanganan nasakah kerjasma ini, UIN dan UnisZA dapat menghasil program-program pendidikan yang mengedepankan mutu dan kualitas,” imbuh Datuk Yahya.
Sedang Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA menyebutkan baik kerjasama itu. “UIN Ar-Raniry Aceh ini terus meningkatkan hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus luar negeri, khusus dengan kampus di Malaysia telah dilakukan beberapa bidang kerjasama dengan berbagai kampus yang ada di Malaysia,” ujarnya.
Kata dia, hubungan antara Aceh dengan Malaysia telah lama terjalin, begitu halnya dengan kampus Ar-Raniry ini, sejak tahun 1980 telah ada mahasiswa yang berasal dari Malaysia. "Itu artinya Kampus Ar-Raniry ini telah menjalin hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus di Malaysia sejak sebelum tahun 80-an," sebut dia.
Farid menyebutkan, beberapa bulan lalu UIN menerima mahasiswa dari Malaysia yang di lakukan dengan dua jalur, yaitu jalur transfer di mana mahasiswa melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, dan jalur kedua mereka mengikuti tes untuk masuk mulai semester pertama, tes telah dilaksanakan di Malaysia dan diikuti oleh lebih kurang 16 sekolah menengah yang ada di Malaysia.
“Hubungan UIN Ar-Raniry dan Aceh dengan Malaysia bukan lah hal yang baru, oleh karena itu setiap pertemuan dan silaturrahim yang dilakukan oleh UIN Insyaallah aka nada tindak lanjut, sehingga ke depan dapat ditingkatkan kerjasama," sebut dia. [mnw]
budaya, feature, Featured, Headline News, humaninterest
ACEH memasuki babak baru dalam khasanah menjaga kearifan lokal. Mengaji
magrib itu sudah turun temurun berlangsung di tanoh Aceh. Hanya saja
dalam tiga dekade terakhir, kebiasaan itu luntur dalam kehidupan warga
Serambi Makkah. Kenapa?
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
Top 5 Popular of The Week
-
RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradara...
-
BANJIR kembali menjadi momok menakutkan di Aceh. Kali ini wilayah Pesisir Barat Selatan. Dampaknya seperti sudah kita maklumi bersama. Ta...
-
SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spand...
-
"HAI Apa Lambak, ho ka treb hana deueh-deueh, --hai, Apa Lambak kemana saja sudah lama tidak kelihatan," begitulah sapaan seorang ...
-
ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca t...






