Showing posts with label feature. Show all posts
feature, Headline News, Sosok
MENJADI juara sudah cita-cita setiap atlet. Medali adalah target yang dikejar dalam setiap kompetisi. Begitu juga halnya dengan Surahmat.
Atlet angkat besi Aceh ini, kembali menyumbang medali untuk tanah rencong. Saat tampil di Gymnasium Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa(20/9) di mencatat total angkatan 255 kg.
Lifter "naturalisasi" ini merebut medali emas cabang olahraga angkat besi kelas 56 kg PON 2016 Jawa Barat. Raihan emas yang diraihnya menjadi kepingan dalam catatan sejarah selama 27 Aceh tampil di PON.
Setelah hampir tiga dekade ikut PON, baru kali ini Aceh menoreh catatan apik dalam perolehan medali. Surahmat ikut bangga menjadi salah satu penyumbangnya.
"Saya ikut bangga bisa menyumbang medali ini," ujar lifter kelahiran Blora 11 Mei 1988 kepada Waspada, dalam penerbangan pulang dari Bandung ke Banda Aceh, akhir pekan kemarin.
Pada PON XVIII di Riau pada 2012, atlet yang lahir dari pasutri Sunoto dengan Sumini ini juga menyumbang potongan medali perak. "Alhamdulillah, ada peningkatan," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Prestasinya tak sebatas di PON. Ada sederet prestasi yang direngkuh peraih perak Universiade Kazan XXVII 2013 di Kazan, Rusia. Lalu, dia masuk delapan besar Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Saat itu Surahmat menempati rangking 13 dunia dengan rekor tertinggi angkatan 263 Kg di Korsel. Tampil dalam Kejuaraan Dunia di Kazakhstan 2015.
"Masuk 13 besar dari 31 peserta. Saat di Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Amerika Serikat masuk 10 besar," ujar peraih medali perak di PON XVIII Riau ini.
Sebelum berangkat ke Bandung, Surahmat punya suntikan semangat ekstra. Pemacu adrenalin saat tanding itu tak lain kelahiran anak pertama jenis kelamin laki-laki yang diberi nama Sulthan Abizard Rahmat.
"Alhamdulillah, anak juga menjadi penambah semangat saya saat berangkat ke Bandung," ungkap Rahmat seraya menyebut anaknya lahir pada 13 September 2016 lalu.
Buah hati pertamanya itu lahir dari rahim Nurlaili, perempuan Simpang Ulim, Aceh Timur yang disuntingnya pada 12 Februari 2015.
Eforia sudah berlalu. Kini, Rahmat ingin menikmati juara bersama anak dan istri tercintanya. Karena itulah dia sudah berencana membeli sebuah rumah dari bonus Rp250 juta yang bakal diterimanya dari KONI Aceh.
Makanya, dia tak ingin lama-lama lagi menikmati kemenangan. "Insha Allah, rencana saya begitu, memberi rumah untuk masa depan anak-anak dari kumpulan uang-uang bonus," jelas Rahmat.
Usai PON, katanya, ia akan alihkan fokus ke Sea Games, apalagi Pelatnas pada Januari nanti. "Paling-paling istirahat seminggu, setelah itu latihan lagi. Kalau tak latihan kontinyu bisa-bisa rusak angkatan," ungkapnya.
Bukan hanya latihan yang kontinyu, tapi porsi makanan juga wajib dijaga. Pagi tujuh butir telor, siang empat potong daging ayam dan malam 4-5 potong daging sapi.
"Biasanya beberapa bulan menjelang turun di kompetisi, porsi makanan, suplemen dan latihan disesuaikan," tutup lifter yang juga pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh ini.
Atlet angkat besi Aceh ini, kembali menyumbang medali untuk tanah rencong. Saat tampil di Gymnasium Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa(20/9) di mencatat total angkatan 255 kg.
Lifter "naturalisasi" ini merebut medali emas cabang olahraga angkat besi kelas 56 kg PON 2016 Jawa Barat. Raihan emas yang diraihnya menjadi kepingan dalam catatan sejarah selama 27 Aceh tampil di PON.
Setelah hampir tiga dekade ikut PON, baru kali ini Aceh menoreh catatan apik dalam perolehan medali. Surahmat ikut bangga menjadi salah satu penyumbangnya.
"Saya ikut bangga bisa menyumbang medali ini," ujar lifter kelahiran Blora 11 Mei 1988 kepada Waspada, dalam penerbangan pulang dari Bandung ke Banda Aceh, akhir pekan kemarin.
Pada PON XVIII di Riau pada 2012, atlet yang lahir dari pasutri Sunoto dengan Sumini ini juga menyumbang potongan medali perak. "Alhamdulillah, ada peningkatan," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Prestasinya tak sebatas di PON. Ada sederet prestasi yang direngkuh peraih perak Universiade Kazan XXVII 2013 di Kazan, Rusia. Lalu, dia masuk delapan besar Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Saat itu Surahmat menempati rangking 13 dunia dengan rekor tertinggi angkatan 263 Kg di Korsel. Tampil dalam Kejuaraan Dunia di Kazakhstan 2015.
"Masuk 13 besar dari 31 peserta. Saat di Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Amerika Serikat masuk 10 besar," ujar peraih medali perak di PON XVIII Riau ini.
Sebelum berangkat ke Bandung, Surahmat punya suntikan semangat ekstra. Pemacu adrenalin saat tanding itu tak lain kelahiran anak pertama jenis kelamin laki-laki yang diberi nama Sulthan Abizard Rahmat.
"Alhamdulillah, anak juga menjadi penambah semangat saya saat berangkat ke Bandung," ungkap Rahmat seraya menyebut anaknya lahir pada 13 September 2016 lalu.
Buah hati pertamanya itu lahir dari rahim Nurlaili, perempuan Simpang Ulim, Aceh Timur yang disuntingnya pada 12 Februari 2015.
Eforia sudah berlalu. Kini, Rahmat ingin menikmati juara bersama anak dan istri tercintanya. Karena itulah dia sudah berencana membeli sebuah rumah dari bonus Rp250 juta yang bakal diterimanya dari KONI Aceh.
Makanya, dia tak ingin lama-lama lagi menikmati kemenangan. "Insha Allah, rencana saya begitu, memberi rumah untuk masa depan anak-anak dari kumpulan uang-uang bonus," jelas Rahmat.
Usai PON, katanya, ia akan alihkan fokus ke Sea Games, apalagi Pelatnas pada Januari nanti. "Paling-paling istirahat seminggu, setelah itu latihan lagi. Kalau tak latihan kontinyu bisa-bisa rusak angkatan," ungkapnya.
Bukan hanya latihan yang kontinyu, tapi porsi makanan juga wajib dijaga. Pagi tujuh butir telor, siang empat potong daging ayam dan malam 4-5 potong daging sapi.
"Biasanya beberapa bulan menjelang turun di kompetisi, porsi makanan, suplemen dan latihan disesuaikan," tutup lifter yang juga pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh ini.
Sumber: Waspapda
feature
Sepakbola dipahami sebagai sebuah permainan yang melibatkan nasib didalamnya. Nasib itu dimain-mainkan di antara kaki ke kaki. Terkadang pula, nasib yang dimain-mainkan itu berbelok tanpa disangka-sangka.
Begitu pula yang dijalani seorang anak manusia bernama Martunis. Dia seorang anak petani tambak di Desa Tibang, Syiah Kuala, Banda Aceh yang ikut menjadi korban bencana dahsyat pada 26 Desember 2004.
Meski talentanya belum teruji seperti pemain nasional, Evan Dimas, tapi Martunis sudah menginjakkan kakinya ke akademi Sporting Lisbon, Portugal. Akademi ini diyakini sebagai sebuah sekolah bola terbaik di Eropa.
Bukan sekadar gagah-gagahan saja. Terbukti, ada sederet pemain top dunia yang pernah berguru di akademi tersebut. Katakan saja, Luis Figo, Calvanho, Pepe hingga Cristiano Ronaldo. Nama terakir ini punya hubungan baik dengan pemain Aceh; Martunis.
Terkait permainan nasib, saat ini cukup banyak pemain profesional di Indonesia yang menjadi kurang beruntung setelah PSSI dibekukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Akibatnya, semua kompetisi resmi di semua strata terhenti sejak 2 Mei lalu.
Kondisi buruk inilah yang sangat berdampak langsung bagi pemain sepakbola di Indosesia. Khususnya pemain yang hanya semata-mata mencari nafkah di lapangan hijau. Untuk membuat asap dapur mengepul, tak sedikit pemain profesional yang biasa bermain di liga bergengsi harus turun kasta.
Turun kasta akibat degradasi isi dompet inilah yang membuat banyak pemain harus rela bermain bola antar kampung yang akrab dikenal tarkam. Hasil atau bayaran yang diperoleh, tentu saja tak sebanyak saat masih berbaju klub-klub profesional.
Karena alasan manusiawi itulah, mereka mengunci rasa gengsi dalam lemari. Demi bisa bertahan hidup dengan keahlian yang mereka miliki hanya bermain bola, maka kompetisi Tarkam menjadi sebuah harapan.
Lebih memiriskan lagi, sejak kompetisi berhenti disusul kebijakan klub yang membubarkan tim, praktis isi dompet tipis bin kosong. Bahkan, tak sedikit pemain liga yang belum menerima gaji mereka di klub.
Karena itu, mau tak mau, para pemain inipun melirik liga antar kampung untuk mencari nafkah dengan bayaran yang pas-pasan. Kondisi ini bisa kita lihat langsung di sejumlah daerah yang menjadi lumbung pemain.
Khusus Banda Aceh, akhir pekan kemarin di lapangan Jasdam, Neusu, dipenuhi pemain-pemain yang masuk dalam uraian di atas. Apalagi di lapangan tersebut, sedang ada tarkam bertajuk Turnamen HUT RI ke-70 memperebutkan Piala Kodam Iskandar Muda.
Ada 16 klub yang ambil bagian. Ada dua klub bertarung di final yang umumnya diperkuat pemain-pemain profesional. Dua tim finalis itu adalah AMPI FC dan Keutapang Dua Club atau KDC Keutapang.
Di kubu AMPI FC misalnya, ada Syakir Sulaiman, mantan pemain muda terbaik ISL dua musim lalu. Kurniawan Septi Hariansyah, Safrizani, Andri Muliadi (pemain Persiraja), Ikhwani Hasanuddin (Persigres Gresik) dan lainnya.
Sedangkan di KDC ada pemain veteran macam Dahlan Jalil, Wahyu AW, Randy Rizky mantan pemain Persiraja, serta pemain-pemain lain yang sempat mengenyam liga profesional; Fitra Ridwan, Rahmat, Helmi PSMS , Nurul Zikra, Jalwandi dan lain-lain.
Striker Persiraja yang memperkuat AMPI FC, Septi Hariansyah mengaku dengan mati surinya kompetisi, sulit menolak tawaran main tarkam. "Hidup kami sangat tergantung pada sepakbola," ungkap Septi yang diamini rekannya, Safrizani.
"Kami juga tidak punya pemasukan lain, dengan main tarkam, setidaknya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, beli susu anak juga. Semoga kisruh ini cepat selesai, jangan sampai mematikan karier kami," ungkapnya dengan nada memilukan.
Kecuali tampil di tarkam yang ada di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar, Septi dkk juga tak menolak tawaran main di turnamen-turnamen serupa di seantero Aceh, seperti di wilayah Pantai Barat Selatan Aceh hingga wilayah Timur dan Utara.
Hal itu diakui kapten Persiraja Banda Aceh Kurniawan yang mengaku nasibnya tak jauh beda dengan pemian lain, seperti Septi. "Tawaran ke luar daerah ada juga kami terima dengan tarif berbeda," kata dia.
Kurniawan mengaku tidak malu membeberkan tarif setiap kali tampil pada turnamen antar kampung. "Di Banda Aceh biasa Rp300-350, kalau Aceh Besar dan luar kota sering di bayar Rp 500-700 ribu," ungkap dia.
Pemain Sriwijaya FC, Syakir Sulaiman yang juga sempat "dikontrak" AMPI FC juga tampil pada turnamen serupa. Dia sempat tampil dua kali membela tim amatir. Selama dua kali turun itu dia berhasil mencetak empat gol untuk duduk sebagai top skor bersama tiga kawan yang lain.
Penampilan mantan pemain Barito Putra ini mampu menghibur publik Banda Aceh. Skill mumpuni lajang asal Bireuen ini mampu menghipnotis penonton.
"Selama tak ada kompetisi, sudah sering saya main tarkam. Kalau tidak main bola sakit badan saya, ini juga sekaligus untuk jaga badan biar tetap bugar," ungkap Syakir, yang juga mantan pemain Timnas U-23 ini.
Lain ambisi pemain, lain pula motivasi penonton. "Ini hiburan bagi kami, apalagi sepakbola kompetisi tak ada lagi. Ya, nasib negara kita begitu," tukas Halim, warga setempat.
"Harapan kami pada HUT RI ke-70 ini, kisruh PSSI dengan Kemenpora cepat selesai. Jika begini terus, bukan saja menyiksa banyak pemain, banyak pihak juga rugi. Padalah kemerdekaan sejati kami rakyat kecil adalah mendapat hiburan dengan menonton sepakbola," ujar Halim lagi.
Tapi apa daya, harapan pemain dan penonton seperti membentur tembok. Sebab, Menpora Imam Nahrawi belum "memerdekakan" pikirannya dari harapan banyak orang. Ya, nasib.
Begitu pula yang dijalani seorang anak manusia bernama Martunis. Dia seorang anak petani tambak di Desa Tibang, Syiah Kuala, Banda Aceh yang ikut menjadi korban bencana dahsyat pada 26 Desember 2004.
Meski talentanya belum teruji seperti pemain nasional, Evan Dimas, tapi Martunis sudah menginjakkan kakinya ke akademi Sporting Lisbon, Portugal. Akademi ini diyakini sebagai sebuah sekolah bola terbaik di Eropa.
Bukan sekadar gagah-gagahan saja. Terbukti, ada sederet pemain top dunia yang pernah berguru di akademi tersebut. Katakan saja, Luis Figo, Calvanho, Pepe hingga Cristiano Ronaldo. Nama terakir ini punya hubungan baik dengan pemain Aceh; Martunis.
Terkait permainan nasib, saat ini cukup banyak pemain profesional di Indonesia yang menjadi kurang beruntung setelah PSSI dibekukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Akibatnya, semua kompetisi resmi di semua strata terhenti sejak 2 Mei lalu.
Kondisi buruk inilah yang sangat berdampak langsung bagi pemain sepakbola di Indosesia. Khususnya pemain yang hanya semata-mata mencari nafkah di lapangan hijau. Untuk membuat asap dapur mengepul, tak sedikit pemain profesional yang biasa bermain di liga bergengsi harus turun kasta.
Turun kasta akibat degradasi isi dompet inilah yang membuat banyak pemain harus rela bermain bola antar kampung yang akrab dikenal tarkam. Hasil atau bayaran yang diperoleh, tentu saja tak sebanyak saat masih berbaju klub-klub profesional.
Karena alasan manusiawi itulah, mereka mengunci rasa gengsi dalam lemari. Demi bisa bertahan hidup dengan keahlian yang mereka miliki hanya bermain bola, maka kompetisi Tarkam menjadi sebuah harapan.
Lebih memiriskan lagi, sejak kompetisi berhenti disusul kebijakan klub yang membubarkan tim, praktis isi dompet tipis bin kosong. Bahkan, tak sedikit pemain liga yang belum menerima gaji mereka di klub.
Karena itu, mau tak mau, para pemain inipun melirik liga antar kampung untuk mencari nafkah dengan bayaran yang pas-pasan. Kondisi ini bisa kita lihat langsung di sejumlah daerah yang menjadi lumbung pemain.
Khusus Banda Aceh, akhir pekan kemarin di lapangan Jasdam, Neusu, dipenuhi pemain-pemain yang masuk dalam uraian di atas. Apalagi di lapangan tersebut, sedang ada tarkam bertajuk Turnamen HUT RI ke-70 memperebutkan Piala Kodam Iskandar Muda.
Ada 16 klub yang ambil bagian. Ada dua klub bertarung di final yang umumnya diperkuat pemain-pemain profesional. Dua tim finalis itu adalah AMPI FC dan Keutapang Dua Club atau KDC Keutapang.
Di kubu AMPI FC misalnya, ada Syakir Sulaiman, mantan pemain muda terbaik ISL dua musim lalu. Kurniawan Septi Hariansyah, Safrizani, Andri Muliadi (pemain Persiraja), Ikhwani Hasanuddin (Persigres Gresik) dan lainnya.
Sedangkan di KDC ada pemain veteran macam Dahlan Jalil, Wahyu AW, Randy Rizky mantan pemain Persiraja, serta pemain-pemain lain yang sempat mengenyam liga profesional; Fitra Ridwan, Rahmat, Helmi PSMS , Nurul Zikra, Jalwandi dan lain-lain.
Striker Persiraja yang memperkuat AMPI FC, Septi Hariansyah mengaku dengan mati surinya kompetisi, sulit menolak tawaran main tarkam. "Hidup kami sangat tergantung pada sepakbola," ungkap Septi yang diamini rekannya, Safrizani.
"Kami juga tidak punya pemasukan lain, dengan main tarkam, setidaknya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, beli susu anak juga. Semoga kisruh ini cepat selesai, jangan sampai mematikan karier kami," ungkapnya dengan nada memilukan.
Kecuali tampil di tarkam yang ada di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar, Septi dkk juga tak menolak tawaran main di turnamen-turnamen serupa di seantero Aceh, seperti di wilayah Pantai Barat Selatan Aceh hingga wilayah Timur dan Utara.
Hal itu diakui kapten Persiraja Banda Aceh Kurniawan yang mengaku nasibnya tak jauh beda dengan pemian lain, seperti Septi. "Tawaran ke luar daerah ada juga kami terima dengan tarif berbeda," kata dia.
Kurniawan mengaku tidak malu membeberkan tarif setiap kali tampil pada turnamen antar kampung. "Di Banda Aceh biasa Rp300-350, kalau Aceh Besar dan luar kota sering di bayar Rp 500-700 ribu," ungkap dia.
Pemain Sriwijaya FC, Syakir Sulaiman yang juga sempat "dikontrak" AMPI FC juga tampil pada turnamen serupa. Dia sempat tampil dua kali membela tim amatir. Selama dua kali turun itu dia berhasil mencetak empat gol untuk duduk sebagai top skor bersama tiga kawan yang lain.
Penampilan mantan pemain Barito Putra ini mampu menghibur publik Banda Aceh. Skill mumpuni lajang asal Bireuen ini mampu menghipnotis penonton.
"Selama tak ada kompetisi, sudah sering saya main tarkam. Kalau tidak main bola sakit badan saya, ini juga sekaligus untuk jaga badan biar tetap bugar," ungkap Syakir, yang juga mantan pemain Timnas U-23 ini.
Lain ambisi pemain, lain pula motivasi penonton. "Ini hiburan bagi kami, apalagi sepakbola kompetisi tak ada lagi. Ya, nasib negara kita begitu," tukas Halim, warga setempat.
"Harapan kami pada HUT RI ke-70 ini, kisruh PSSI dengan Kemenpora cepat selesai. Jika begini terus, bukan saja menyiksa banyak pemain, banyak pihak juga rugi. Padalah kemerdekaan sejati kami rakyat kecil adalah mendapat hiburan dengan menonton sepakbola," ujar Halim lagi.
Tapi apa daya, harapan pemain dan penonton seperti membentur tembok. Sebab, Menpora Imam Nahrawi belum "memerdekakan" pikirannya dari harapan banyak orang. Ya, nasib.
budaya, feature, Featured, Headline News, humaninterest
ACEH memasuki babak baru dalam khasanah menjaga kearifan lokal. Mengaji
magrib itu sudah turun temurun berlangsung di tanoh Aceh. Hanya saja
dalam tiga dekade terakhir, kebiasaan itu luntur dalam kehidupan warga
Serambi Makkah. Kenapa?
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
budaya, feature, Featured, Headline News
DINGIN yang menggelayut di anjungan Aceh, kompleks Taman Mini Indonesia
Indah, mengingatkan Bengi akan tanah kelahirannya, dataran tinggi Gayo.
Sabtu malam, (10/11), seusai membawa Tari Munalo, serta menonton Didong
Jalu, kerinduannya pun terobati.
Malam Minggu kemarin, hampir lima ratusan warga Gayo se Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, di Taman Mini. Hajatannya bukan kenduri usai panen kopi, tapi bersilaturrahmi.
Para sesepuh warga Gayo yang menggelar Halal bihalal di sana, merasa amat spesial dengan kehadiran Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. Bagaimana tidak, Nazar juga mengukuhkan pengurus baru Ikatan Musara Gayo se Jabodetabek, pada malam itu.
Bukan cuma acara seremoni saja. Ikatan Musara Gayo juga membuka stand pameran. Menariknya di pameran tersebut juga disediakan kupi jelabok, Lepak dan masakan khas Aceh Tengah dan Bener Meriah lainnya yang dimasak langsung di tempat.
Lepas kangen itu juga diwarnai dengan lomba Didong alias Didong Jalu. Dua grup dari Jakarta dan Bandung 'berbalas pantun' malam itu. Namun, warga Gayo di Parahiyangan unggul dalam lomba tersebut. Pemenang mendapat hadiah Rp 1,5 juta.
Kidung kampung halaman, juga dilantunkan para seniman Gayo. Tentu saja termasuk lagu wajib 'Tawar Sedenge' karya A Moese. Moese seorang seniman kawakan Gayo yang Agustus lalu menghembuskan nafas terakhir. Dia menggubah lagu tersebut pada 1956 saat berusia 22 tahun.
Didong serta kidung lainnya bukan saja mengobati hati Rosimah Bengi, mahasiswi semester V salah satu universitas di Serang, Banten. Ratusan warga lainnya juga punya asabat yang sama. "Kami ikut latihan di Sanggar Buntul Kubu," kata Bengi.
Seorang sepuh Gayo, Usman Nuzuli Hatta, malam itu mengajak semua warga Aceh dari berbagai suku untuk melestikan budaya-budaya sendiri, meski berada diperantauan. Harapan itu bukan cuma sebatas angan.
Buktinya, sekelompok gadis cilik berusia dibawah sepuluh tahun membawakan Tari Kipes dengan sempurna. Bocah-bocah itu bernaung di bawah Sanggar Buntul Kubu. "Mereka generasi ketiga, yang sekarang juga belajar tarian tradisional Gayo," sambung Bengi lagi.
Dalam sambutannya, Usman mengharapkan agar ikatan primordial yang ada di perantauan juga harus ikut mendukung pembangunan di Aceh pada masa mendatang. "Pertahankan ikatan primordial ini dengan memberikan warna untuk mencapai kemajuan Aceh," tutur dia.
Wagub Muhammad Nazar, juga mengajak semua elemen untuk menjaga kondisi perdamaian untuk membangun Aceh tanpa terkecuali dan tanpa diskriminasi. Saat mengucapkan itu, tepukan pun riuah. "Kami berjanji, pemerintahan kami tidak ada diskriminasi," ujarnya.
Seperti diketahui, wilayah pedalaman seperti Aceh Tengah dan daerah lain yang berada di sekitar misalnya, selama ini terkesan diabaikan oleh penguasa di Banda Aceh. Sehingga kue pembangunan kurang mengucur ke sana.
"Kalau dulu ada daerah terisolir, Insya Allah ke depan tidak boleh ada lagi," papar Nazar yang kembali disambut tepuk tangan, apalagi Wagub juga sekali-kali menyelingi hadih maja Gayo dalam sambutannya.
Dibawah gerimis dan dinginnya pojokan anjungan Aceh makin membuat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah terasa bak berada di kampungnya. Apalagi malam itu, Didong Jalu, berlangsung hingga pagi dan disaksikan, Drs, Ishak MS, sekretaris daerah Bener Meriah. Semuanya menjadi bak di kampung sendiri. [a]
Malam Minggu kemarin, hampir lima ratusan warga Gayo se Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, di Taman Mini. Hajatannya bukan kenduri usai panen kopi, tapi bersilaturrahmi.
Para sesepuh warga Gayo yang menggelar Halal bihalal di sana, merasa amat spesial dengan kehadiran Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. Bagaimana tidak, Nazar juga mengukuhkan pengurus baru Ikatan Musara Gayo se Jabodetabek, pada malam itu.
Bukan cuma acara seremoni saja. Ikatan Musara Gayo juga membuka stand pameran. Menariknya di pameran tersebut juga disediakan kupi jelabok, Lepak dan masakan khas Aceh Tengah dan Bener Meriah lainnya yang dimasak langsung di tempat.
Lepas kangen itu juga diwarnai dengan lomba Didong alias Didong Jalu. Dua grup dari Jakarta dan Bandung 'berbalas pantun' malam itu. Namun, warga Gayo di Parahiyangan unggul dalam lomba tersebut. Pemenang mendapat hadiah Rp 1,5 juta.
Kidung kampung halaman, juga dilantunkan para seniman Gayo. Tentu saja termasuk lagu wajib 'Tawar Sedenge' karya A Moese. Moese seorang seniman kawakan Gayo yang Agustus lalu menghembuskan nafas terakhir. Dia menggubah lagu tersebut pada 1956 saat berusia 22 tahun.
Didong serta kidung lainnya bukan saja mengobati hati Rosimah Bengi, mahasiswi semester V salah satu universitas di Serang, Banten. Ratusan warga lainnya juga punya asabat yang sama. "Kami ikut latihan di Sanggar Buntul Kubu," kata Bengi.
Seorang sepuh Gayo, Usman Nuzuli Hatta, malam itu mengajak semua warga Aceh dari berbagai suku untuk melestikan budaya-budaya sendiri, meski berada diperantauan. Harapan itu bukan cuma sebatas angan.
Buktinya, sekelompok gadis cilik berusia dibawah sepuluh tahun membawakan Tari Kipes dengan sempurna. Bocah-bocah itu bernaung di bawah Sanggar Buntul Kubu. "Mereka generasi ketiga, yang sekarang juga belajar tarian tradisional Gayo," sambung Bengi lagi.
Dalam sambutannya, Usman mengharapkan agar ikatan primordial yang ada di perantauan juga harus ikut mendukung pembangunan di Aceh pada masa mendatang. "Pertahankan ikatan primordial ini dengan memberikan warna untuk mencapai kemajuan Aceh," tutur dia.
Wagub Muhammad Nazar, juga mengajak semua elemen untuk menjaga kondisi perdamaian untuk membangun Aceh tanpa terkecuali dan tanpa diskriminasi. Saat mengucapkan itu, tepukan pun riuah. "Kami berjanji, pemerintahan kami tidak ada diskriminasi," ujarnya.
Seperti diketahui, wilayah pedalaman seperti Aceh Tengah dan daerah lain yang berada di sekitar misalnya, selama ini terkesan diabaikan oleh penguasa di Banda Aceh. Sehingga kue pembangunan kurang mengucur ke sana.
"Kalau dulu ada daerah terisolir, Insya Allah ke depan tidak boleh ada lagi," papar Nazar yang kembali disambut tepuk tangan, apalagi Wagub juga sekali-kali menyelingi hadih maja Gayo dalam sambutannya.
Dibawah gerimis dan dinginnya pojokan anjungan Aceh makin membuat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah terasa bak berada di kampungnya. Apalagi malam itu, Didong Jalu, berlangsung hingga pagi dan disaksikan, Drs, Ishak MS, sekretaris daerah Bener Meriah. Semuanya menjadi bak di kampung sendiri. [a]
feature, perempuan, Sosok
JIKA Allah ingin menunjukkan rahmat-Nya buat seorang hamba, akan banyak corak dan langgamnya. Bisa lewat sepotong kaos bola atau selembar lukisan saja. Reka Karina, bocah korban tsunami yang sejak kecil "bermimpi" jadi dokter meresapi rahmat itu. Siapa nyana, bila gambar coretannya setahun silam membawa berkah kemudian.
Selasa sore diawal Agustus di Lambaro Skep, Karina kembali membolak-balik dokumen simpanannya. Sebuah bundel biru tua berisi beberapa lembar penghargaan, plus buku "antologi" lukisan. Salah satu isi buku, sebuah coretan berwarna biru berupa dua lintasan gelombang. Karina menatap lagi coretan pembawa berkah ini.
"Saya mau lukis tiga buah gelombang, tapi ngak muat kertasnya," ujar Karina seraya terkekeh. Katanya, dia cuma melukis saja pada saat ikut lomba melukis disuatu hari pada April 2005. Makanya dia bilang, "Saya cuma ingat tsunami, saya lukis aja gelombang tsunami." Inilah lukisan tsunami versi Karina.
Lukisan "dua gelombang" itulah yang kemudian menghayutkan Dr Elio Matacana, Ketua Yayasan Ponte diArcimede (PdA) di Messina, Italia. Seakan ikut merasa ekses dari terpaan gelombang dalam lukisan Karina, Matacana lantas mengucurkan kocek yayasannya. Karina pun dapat beasiswa.
Cerita beasiswa itu tidak muncul serta merta. Ini bermula ketika Matacana kepicut goresan Karina yang dipamerkan bersama 44 buah lukisan anak-anak Aceh korban tsunami di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Waktunya 14 Februari lalu. Saat itu, KBRI menggelar acara bertajuk "Memperingati Setahun Tsunami".
Pameran ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Salah satunya Elio Matacana ketua PdA. Dari 44 lukisan yang ada, Matacana jatuh hati pada "dua gelombang" polesan Karina. Lantas dia memutuskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lukisan "dua gelombang".
Lalu, Karina pun disodor beasiswa sebesar Euro 10.000. Dana ini jika rupiahkan dengan kurs sekira Rp12.000, maka ada Rp120 juta isi tabungannya. Pria Roma itu berharap dengan pemberian beasiswa itu, Karina dapat menyelesaikan pendidikan yang tinggi serta mengembangkan bakatnya dalam seni setinggi mungkin. Semua bagi masa depannya.
Akhirnya, Duta Besar Republik Indonesia di Roma Sutanto Sutoyo meminta BRR untuk membukakan deposito berjangka atas nama Karina dari beasiswa yang diberikan yayasan tersebut. "Tujuannya agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi yang dia cita-citakan," begitu pesan Dr Elio Matacana yang dikutip staf kedubes RI, Minister Counselor Artanto S. Wargadinata.
Karina punya cerita panjang. Cita-citanya tak bisa ditawar. "Apapun ceritanya dia tetap mau jadi dokter, bapak tawarin kuliah di fakultas hukum saja tak mau," kata Abdul Hamid Bujai, ayahnya. "Saya sempat berpikir tentang biaya yang mahal kalau jadi dokter, harga buku saja sudah berapa," timpal sang ibu Yulia Rosalina.
Akibatnya, Karina merasa down semangatnya dan selalu termenung. Namun dengan sikap keibuannya, Yulia membimbing gadis manis itu. "Saya selalu bilang agar dia bersabar. Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. Mungkin suatu saat Allah akan menunjukkan jalannya."
Nasihat itu amat meresapi sanubari si alis tebal ini. Dia pun sabar, dan Karina pun menjalani hari-harinya sebagai anak yang mandiri serta inovatif dan suka membantu orang tuanya. "Diam Karin adalah tidur, kalau udah tidur baru nggak ada yang dia kerjakan lagi," sambung ayahnya.
Begitu juga dengan hobi melukis. Waktu senggang dia kerap melukis apa saja. Coretan mencoret di kertas sudah dimulai sejak sekolah dasar sampai sekarang. Antara cita-cita menjadi dokter dan hobi melukis memang paradoks. Tapi Karina tak peduli.
Begitu pun, dia sama sekali tak pernah melukis sosok seorang pasien yang sedang diobati. Atau seorang pasien yang sedang diinfus. Barangkali dia trauma, sehingga jarang kepikir ke sana. Sebab, menurut ibunya, ketika masih bayi, calon dokter itu kerap diserang diare. Tak
pernah reda.
Bayi yang bernama Chik Wita ini kerap keluar masuk rumah sakit. "Bentar-bentar ke rumah sakit," keluh ibunya. Kedua orang tuanya nyaris putus asa. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengganti nama bayi mungil itu. Lantas dipilihlag nama Reka Karina.
Ajaib. Diare yang akrab dengan adik dari Stranye Apramilia hilang bak ditelan bumi. "Ada kepercayaan seperti itu dalam masyarakat kita. Alhamdullillah, setelah ganti nama dia tidak diare lagi," papar Hamid, bekas Kepala Desa Lambaro Skep ini.
Kini Karina beranjak remaja. September nanti umurnya 11 tahun. Saat ini dia tercatat sebagai siswi kelas 1.1 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lampriek, Banda Aceh. "Dia salah satu siswi kelas inti di sini," kata Salma Ismail, S.Pd, wakil kepala bidang kurikulum sekolah itu.
Praktis orang tuanya sangat bangga dengan bekas siswi MIN Banda Aceh ini. Bukan itu saja, Hamid juga merasa surprise dengan beasiswa yang diperoleh Aina. "Dana itu akan dipakai semata-mata untuk pendidikan dia. Terima kasih banyak dari kami sekeluarga," imbuh Abdul Hamid.
Keduanya bertekad untuk mengelola dengan baik depositnya guna kepentingan sekolah Karina. Tentu saja untuk biaya-biaya sekolahnya hingga perguruan tinggi nanti. Otomatis dia memilih Fakultas Kedokteran. "Kan untuk mencapai cita-cita jadi dokter?," sambung Aina.
Begitulah rahmat yang diterima anak ketiga pasangan A Hamid Bujai dan Yuli Rosalina ini. Pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", kini benar-benar menyelingkupi hati Katina. Bagaiman tidak, dengan beasiswa dari Roma dia menggapai cita-citanya. Selamat. [Munawardi Ismail]
Dimuat pada : 11/08/06
Selasa sore diawal Agustus di Lambaro Skep, Karina kembali membolak-balik dokumen simpanannya. Sebuah bundel biru tua berisi beberapa lembar penghargaan, plus buku "antologi" lukisan. Salah satu isi buku, sebuah coretan berwarna biru berupa dua lintasan gelombang. Karina menatap lagi coretan pembawa berkah ini.
"Saya mau lukis tiga buah gelombang, tapi ngak muat kertasnya," ujar Karina seraya terkekeh. Katanya, dia cuma melukis saja pada saat ikut lomba melukis disuatu hari pada April 2005. Makanya dia bilang, "Saya cuma ingat tsunami, saya lukis aja gelombang tsunami." Inilah lukisan tsunami versi Karina.
Lukisan "dua gelombang" itulah yang kemudian menghayutkan Dr Elio Matacana, Ketua Yayasan Ponte diArcimede (PdA) di Messina, Italia. Seakan ikut merasa ekses dari terpaan gelombang dalam lukisan Karina, Matacana lantas mengucurkan kocek yayasannya. Karina pun dapat beasiswa.
Cerita beasiswa itu tidak muncul serta merta. Ini bermula ketika Matacana kepicut goresan Karina yang dipamerkan bersama 44 buah lukisan anak-anak Aceh korban tsunami di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Waktunya 14 Februari lalu. Saat itu, KBRI menggelar acara bertajuk "Memperingati Setahun Tsunami".
Pameran ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Salah satunya Elio Matacana ketua PdA. Dari 44 lukisan yang ada, Matacana jatuh hati pada "dua gelombang" polesan Karina. Lantas dia memutuskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lukisan "dua gelombang".
Lalu, Karina pun disodor beasiswa sebesar Euro 10.000. Dana ini jika rupiahkan dengan kurs sekira Rp12.000, maka ada Rp120 juta isi tabungannya. Pria Roma itu berharap dengan pemberian beasiswa itu, Karina dapat menyelesaikan pendidikan yang tinggi serta mengembangkan bakatnya dalam seni setinggi mungkin. Semua bagi masa depannya.
Akhirnya, Duta Besar Republik Indonesia di Roma Sutanto Sutoyo meminta BRR untuk membukakan deposito berjangka atas nama Karina dari beasiswa yang diberikan yayasan tersebut. "Tujuannya agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi yang dia cita-citakan," begitu pesan Dr Elio Matacana yang dikutip staf kedubes RI, Minister Counselor Artanto S. Wargadinata.
"Dokter" Cilik Karina
Rasanya tak sia-sia Elio mengalirkan kocek yayasannya buat gadis yang punya banyak nama kecil ini. Pasalnya, Karin, Aina atau Nana ---begitu sapaan dalam keluarga--- sejak kecil sudah mematok cita-cita tinggi; dokter. Sebuah asa yang amat mulia. "Ina tetap ngotot ingin jadi dokter," kata Ny Yulia Rosalina, ibunda Karina.Karina punya cerita panjang. Cita-citanya tak bisa ditawar. "Apapun ceritanya dia tetap mau jadi dokter, bapak tawarin kuliah di fakultas hukum saja tak mau," kata Abdul Hamid Bujai, ayahnya. "Saya sempat berpikir tentang biaya yang mahal kalau jadi dokter, harga buku saja sudah berapa," timpal sang ibu Yulia Rosalina.
Akibatnya, Karina merasa down semangatnya dan selalu termenung. Namun dengan sikap keibuannya, Yulia membimbing gadis manis itu. "Saya selalu bilang agar dia bersabar. Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. Mungkin suatu saat Allah akan menunjukkan jalannya."
Nasihat itu amat meresapi sanubari si alis tebal ini. Dia pun sabar, dan Karina pun menjalani hari-harinya sebagai anak yang mandiri serta inovatif dan suka membantu orang tuanya. "Diam Karin adalah tidur, kalau udah tidur baru nggak ada yang dia kerjakan lagi," sambung ayahnya.
Begitu juga dengan hobi melukis. Waktu senggang dia kerap melukis apa saja. Coretan mencoret di kertas sudah dimulai sejak sekolah dasar sampai sekarang. Antara cita-cita menjadi dokter dan hobi melukis memang paradoks. Tapi Karina tak peduli.
Begitu pun, dia sama sekali tak pernah melukis sosok seorang pasien yang sedang diobati. Atau seorang pasien yang sedang diinfus. Barangkali dia trauma, sehingga jarang kepikir ke sana. Sebab, menurut ibunya, ketika masih bayi, calon dokter itu kerap diserang diare. Tak
pernah reda.
Bayi yang bernama Chik Wita ini kerap keluar masuk rumah sakit. "Bentar-bentar ke rumah sakit," keluh ibunya. Kedua orang tuanya nyaris putus asa. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengganti nama bayi mungil itu. Lantas dipilihlag nama Reka Karina.
Ajaib. Diare yang akrab dengan adik dari Stranye Apramilia hilang bak ditelan bumi. "Ada kepercayaan seperti itu dalam masyarakat kita. Alhamdullillah, setelah ganti nama dia tidak diare lagi," papar Hamid, bekas Kepala Desa Lambaro Skep ini.
Kini Karina beranjak remaja. September nanti umurnya 11 tahun. Saat ini dia tercatat sebagai siswi kelas 1.1 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lampriek, Banda Aceh. "Dia salah satu siswi kelas inti di sini," kata Salma Ismail, S.Pd, wakil kepala bidang kurikulum sekolah itu.
Praktis orang tuanya sangat bangga dengan bekas siswi MIN Banda Aceh ini. Bukan itu saja, Hamid juga merasa surprise dengan beasiswa yang diperoleh Aina. "Dana itu akan dipakai semata-mata untuk pendidikan dia. Terima kasih banyak dari kami sekeluarga," imbuh Abdul Hamid.
Keduanya bertekad untuk mengelola dengan baik depositnya guna kepentingan sekolah Karina. Tentu saja untuk biaya-biaya sekolahnya hingga perguruan tinggi nanti. Otomatis dia memilih Fakultas Kedokteran. "Kan untuk mencapai cita-cita jadi dokter?," sambung Aina.
Begitulah rahmat yang diterima anak ketiga pasangan A Hamid Bujai dan Yuli Rosalina ini. Pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", kini benar-benar menyelingkupi hati Katina. Bagaiman tidak, dengan beasiswa dari Roma dia menggapai cita-citanya. Selamat. [Munawardi Ismail]
Dimuat pada : 11/08/06
feature, Featured, hiburan, perempuan
MINAT remaja Aceh untuk menulis terbilang tinggi. Menyimak dari hasrat, terlihat menggebu-gebu. Membaca contoh tulisan, tersimpan banyak potensi. Jelas ada bakat yang terpendam. Mereka tak ubahnya bak mutiara berkubang lumpur. Lantas, Seuramoe Teumuleh pun mengangkat "mutiara" dalam lumpur itu.
Cukup beralasan ketika Seuramoe Tumuleh II kembali dimulai. Apalagi putra-putri tanoh Aceh itu punya potensi, ide-ide mereka juga apik. Makanya, bila sedikit saja dipoles, mutiara itupun akan berkilau. Mereka punya segudang ide yang terkadang liar. "Saya tak tahu harus memulai dari mana kalau menulis, sementara ide itu banyak sekali," tukas Aida Yunita, kepada saya ketika itu.
Aida adalah satu dari 100 peserta sekolah menulis; Seuramoe Teumuleh II yang digelar Katahati Institute bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Pendidikan untuk "tukang tulis" yang gratis itu akan berlangsung selama dua bulan. Desember 2006 lalu, kegiatan serupa juga sudah pernah digelar.
Saya yang mendapat "tugas" menyeleksi hampir 200-an calon peserta pada saat wawancara beberapa waktu lalu, menangkap kesan itu. Paling tidak inspirasi calon-calon "tukang tulis" ini cukup cemerlang. Dan yang tak kalah penting adalah mereka kritis.
Daya kritiknya kuat juga. Tapi dari seratusan remaja, mereka malah tertarik untuk mengkritisi penerapan syariat Islam dan perilaku remaja di Serambi Makkah. Ada apa dengan syariat? Salahkah dia? "Saya tertarik menulis syariat Islam yang lagi susah payahnya diterapkan di Aceh," komentar Nurlaila AR, calon peserta yang saya wawancarai.
Dia tertarik bukan disebabkan alasan klasik, karena Islam sudah membumi di tanoh rencong. Nurlaila mengaku melihat syariat Islam itu sudah seperti "benda" asing di Aceh. Ditambah lagi dengan tingkah aparatur pemerintah yang dianggap tebang pilih dalam menerapkan hukum agama itu.
"Kalau rakyat biasa yang salah, langsung diproses dan dipersulit. Tapi coba kalau kelas menengah ke atas, pasti berlarut-larut. Sungguh itu bukan cara terbaik untuk masyarakat. Kalo begini caranya, rakyat akan mengamuk," ulas Nirna Yanti, mahasiswa sebuah lembaga pendidikan di Banda Aceh ini.
Menyimak komentar warga Keutapang ini, saya teringat Taqwaddin, SH, MS, dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh ini bilang, syariat Islam di Aceh itu mengandung sifat-sifat air; mencari tempat yang rendah.
"Hukum bagaikan air. Mengalir ke tempat paling rendah, sehingga pada orang rendahan sajalah hukum itu menumpuk," tamsil pria yang juga menamatkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Unsyiah itu. Ironis memang, sejatinya hukum itu berlaku untuk siapa saja, tak peduli dia pejabat atau penjahat.
Tapi, seperti kata Taqwaddin, sebaliknya, hukum itu tidak berlaku bagi orang yang lebih tinggi kedudukan dan jabatannya. "Dengan berbagai dalil, hukum itu seperti menjauh dari yang bersangkutan," urai dia.
Taqwaddin benar. Karena itu pulalah, Safrina, calon peserta lainnya, merasa "tidak bisa" menerima pelaksanaan syariat Islam itu. "Sejak saat diterapkan, saya malah merasa tertantang untuk kucing-kucingan dengan petugas," aku gadis asal Aceh Timur itu.
Akibat "pemaksaan" itulah, Safrina tak pernah merasa peraturan itu menjadi sebuah kewajiban bagi dia, tapi sebaliknya, cuma sebatas formalitas semata. "Kenapa perempuan terus yang disorot," tanya gadis hitam manis ini.
Nindy Silvie, siswi SMU I Banda Aceh juga tak jauh beda. Sebagai muslimah dia melihat syariah itu kebutuhan. "Tanpa dipaksa pun, kita selalu memakai jilbab kok," ujar siswi yang aktif di OSIS sekolahnya.
Pro kontra masalah syariat Islam, seakan mengalir seperti air juga. Di bendung sana-sini, sesuai dengan kondrat air, dia juga tetap mencari dataran rendah. Meski yang sangat disayangkan adalah penerapannya yang "mengadopsi" gaya air. "Seharusnya semua orang di mata hukum sama," sambung Mu'arif, juga calon peserta yang saya tanyai.
Pada kesempatan yang lain, kalangan ulama mengharapkan penerapan syariat Islam di Aceh tidak boleh gagal, kendati dalam implementasinya banyak kendala yang dihadapi. "Tidak ada istilah gagal syariat Islam di Aceh, ini tanggung jawab kita bersama," kata Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, seorang ulama Aceh baru-baru ini.
Kata Wakil I Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini, komitmen pemerintah dalam menjalankan syariat Islam di Aceh sudah merupakan sebuah kemajuan. "Di sinilah perlunya dijaga kekompakan agar semua pihak bersatu dalam mengawal jalannya syariat Islam," ujar pria yang kerap disapa Waled Nu itu.
Atas nama bersatu untuk pengawalan, seperti diutarakan ulama dayah ini, tentu kita juga akan menunggu kritikan remaja Aceh yang sedang belajar menjadi "tukang tulis"
di Seuramoe Tumuleh. Akankah mereka juga mengkritik seperti air yang mengalir. [Munawardi Ismail]
Cukup beralasan ketika Seuramoe Tumuleh II kembali dimulai. Apalagi putra-putri tanoh Aceh itu punya potensi, ide-ide mereka juga apik. Makanya, bila sedikit saja dipoles, mutiara itupun akan berkilau. Mereka punya segudang ide yang terkadang liar. "Saya tak tahu harus memulai dari mana kalau menulis, sementara ide itu banyak sekali," tukas Aida Yunita, kepada saya ketika itu.
Aida adalah satu dari 100 peserta sekolah menulis; Seuramoe Teumuleh II yang digelar Katahati Institute bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Pendidikan untuk "tukang tulis" yang gratis itu akan berlangsung selama dua bulan. Desember 2006 lalu, kegiatan serupa juga sudah pernah digelar.
Saya yang mendapat "tugas" menyeleksi hampir 200-an calon peserta pada saat wawancara beberapa waktu lalu, menangkap kesan itu. Paling tidak inspirasi calon-calon "tukang tulis" ini cukup cemerlang. Dan yang tak kalah penting adalah mereka kritis.
Daya kritiknya kuat juga. Tapi dari seratusan remaja, mereka malah tertarik untuk mengkritisi penerapan syariat Islam dan perilaku remaja di Serambi Makkah. Ada apa dengan syariat? Salahkah dia? "Saya tertarik menulis syariat Islam yang lagi susah payahnya diterapkan di Aceh," komentar Nurlaila AR, calon peserta yang saya wawancarai.
Dia tertarik bukan disebabkan alasan klasik, karena Islam sudah membumi di tanoh rencong. Nurlaila mengaku melihat syariat Islam itu sudah seperti "benda" asing di Aceh. Ditambah lagi dengan tingkah aparatur pemerintah yang dianggap tebang pilih dalam menerapkan hukum agama itu.
"Kalau rakyat biasa yang salah, langsung diproses dan dipersulit. Tapi coba kalau kelas menengah ke atas, pasti berlarut-larut. Sungguh itu bukan cara terbaik untuk masyarakat. Kalo begini caranya, rakyat akan mengamuk," ulas Nirna Yanti, mahasiswa sebuah lembaga pendidikan di Banda Aceh ini.
Menyimak komentar warga Keutapang ini, saya teringat Taqwaddin, SH, MS, dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh ini bilang, syariat Islam di Aceh itu mengandung sifat-sifat air; mencari tempat yang rendah.
"Hukum bagaikan air. Mengalir ke tempat paling rendah, sehingga pada orang rendahan sajalah hukum itu menumpuk," tamsil pria yang juga menamatkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Unsyiah itu. Ironis memang, sejatinya hukum itu berlaku untuk siapa saja, tak peduli dia pejabat atau penjahat.
Tapi, seperti kata Taqwaddin, sebaliknya, hukum itu tidak berlaku bagi orang yang lebih tinggi kedudukan dan jabatannya. "Dengan berbagai dalil, hukum itu seperti menjauh dari yang bersangkutan," urai dia.
Taqwaddin benar. Karena itu pulalah, Safrina, calon peserta lainnya, merasa "tidak bisa" menerima pelaksanaan syariat Islam itu. "Sejak saat diterapkan, saya malah merasa tertantang untuk kucing-kucingan dengan petugas," aku gadis asal Aceh Timur itu.
Akibat "pemaksaan" itulah, Safrina tak pernah merasa peraturan itu menjadi sebuah kewajiban bagi dia, tapi sebaliknya, cuma sebatas formalitas semata. "Kenapa perempuan terus yang disorot," tanya gadis hitam manis ini.
Syariat Islam
Lain lagi dengan Alvi Chairiah, siswa SMU 3 Banda Aceh yang juga mengikuti kegiatan serupa. Gadis manis ini mengatakan syariat Islam bukan rintangan bagi dia. "Kalau kita berbusana dengan sopan tak perlu takut dengan WH. Kita hanya takut kepada Allah SWT," urai Alvi. WH akronim dari Wilayatul Hisbah yang menjadi semacam polisi syariah.Nindy Silvie, siswi SMU I Banda Aceh juga tak jauh beda. Sebagai muslimah dia melihat syariah itu kebutuhan. "Tanpa dipaksa pun, kita selalu memakai jilbab kok," ujar siswi yang aktif di OSIS sekolahnya.
Pro kontra masalah syariat Islam, seakan mengalir seperti air juga. Di bendung sana-sini, sesuai dengan kondrat air, dia juga tetap mencari dataran rendah. Meski yang sangat disayangkan adalah penerapannya yang "mengadopsi" gaya air. "Seharusnya semua orang di mata hukum sama," sambung Mu'arif, juga calon peserta yang saya tanyai.
Pada kesempatan yang lain, kalangan ulama mengharapkan penerapan syariat Islam di Aceh tidak boleh gagal, kendati dalam implementasinya banyak kendala yang dihadapi. "Tidak ada istilah gagal syariat Islam di Aceh, ini tanggung jawab kita bersama," kata Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, seorang ulama Aceh baru-baru ini.
Kata Wakil I Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini, komitmen pemerintah dalam menjalankan syariat Islam di Aceh sudah merupakan sebuah kemajuan. "Di sinilah perlunya dijaga kekompakan agar semua pihak bersatu dalam mengawal jalannya syariat Islam," ujar pria yang kerap disapa Waled Nu itu.
Atas nama bersatu untuk pengawalan, seperti diutarakan ulama dayah ini, tentu kita juga akan menunggu kritikan remaja Aceh yang sedang belajar menjadi "tukang tulis"
di Seuramoe Tumuleh. Akankah mereka juga mengkritik seperti air yang mengalir. [Munawardi Ismail]
feature, Featured
Ratusan bocah-bocah belasan tahun di Banda Aceh dengan semangat mengikuti lomba melukis. Kali ini bukan melukis tentang tsunami seperti yang marak beberapa bulan silam. Tapi sekarang tentang perdamaian. Menarik memang, ketika damai itu digores anak-anak.
Dulunya, jika anak-anak diajak melukis yang digambar pasti soal senjata, granat dan rumah-rumah yang terbakar. Lalu, ketika musibah dahsyat tsunami menghayak Aceh, giliran gelombang dan orang-orang berlarian ke segala arah yang digambarkan.
Semua itu sudah berlalu, kini mengisi masa damai. Hasil goresan pun berbeda pula. Tidak seperti biasanya. Apik dan menarik. Semua kegiatan tersebut dirangkum guna menyambut 2 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus nanti. "Bergandeng Tangan, Merenda Damai" itulah tema acara itu.
Tentu saja, hajatan tersebut digelar Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Mulai dari Duek Pakat Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh "Pikee Keu Damee" hingga Lomba Lukis dan Menulis Surat Anak untuk Perdamaian Aceh.
Faurizal Moechtar, ST, staf BRA Pusat kepada Waspada, kemarin mengatakan pihaknya juga akan menggelar Tour Perdamaian Keliling Aceh, pada 15 Agustus nanti. Katanya, kegiatan tersebut akan 15 becak yang mulai bergerak dari Banda Aceh.
Untuk tour perdamaian tersebut, para peserta akan mengusung atribut-atribut serta buletin perdamaian ntuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. "Kita targetkan 10 hari keliling Aceh itu akan selesai," ujarnya.
Bukan cuma itu, dalam tour tersebut selain abang becak, juga akan ikut puluhan mahasiswa yang akan diawal foreder serta satu unit mobil ambulan. "Setiap masuk kabupaten kota mereka akan disambut dan dilepaskan oleh BRA setempat," sebut Faurizal yang juga Koordinator Bidang Ekonomi BRA.
Menurut mantan aktivis ini, ketika berbicara damai mendengar suara hati anak-anak adalah langkah tidak salah dan bijaksana. Toh, anak-anak paling punya hak menikmati perdamaian ini. Dan itulah yang dilakukan lembaga reintegrasi ini dalam memperingati dua tahun perjanjian damai yang diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
"Saya terharu melihat goresan anak-anak. Apresiasi mereka tentang perdamaian sangat luar biasa," kata Faurizal mengomentari aksi 210 anak-anak di Banda Aceh yang mengikuti lomba lukis dimaksud. Acara yang digelar di kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Senin (6/8) petang itu, berlangsung sukses.
Begitu pula dengan Tijana Syarafana, salah satu peserta lomba lukis. Siswa SD Percontohan Lamlagang mengaku senang dengan kondisi Aceh yang sudah damai. "Kemana-mana kita nggak takut lagi, nggak ada suara bom," celotehnya.
Ketua Harian BRA, M Nur Djuli yang menyempatkan diri menengok apresiasi anak-anak di atas kertas menyambut positif kegiatan tersebut. Bukan hanya sebatas itu, dia juga mengaku kagum dan tak menyangka, ketika melihat lukisan karya anak-anak. "Bagus-bagus dan menarik," komentarnya.
Goresan anak-anak yang dilihat Nur Djuli bervariasi, ada yang menggambar orang bersalaman, pos TNI dan GAM, bendera merah putih dan bendera GAM. "Isinya tidak ada lagi unsur-unsur kekerasan dalam pikiran anak-anak serang, semuanya sudah damai. Positif sekali," sebutnya.
Kendati menarik, kita harus menunggu sepekan lagi untuk menunggu siapa pemenangnya. Tapi yang penting damai sudah tersemai.
Dipublish pada 07/08/07
Dulunya, jika anak-anak diajak melukis yang digambar pasti soal senjata, granat dan rumah-rumah yang terbakar. Lalu, ketika musibah dahsyat tsunami menghayak Aceh, giliran gelombang dan orang-orang berlarian ke segala arah yang digambarkan.
Semua itu sudah berlalu, kini mengisi masa damai. Hasil goresan pun berbeda pula. Tidak seperti biasanya. Apik dan menarik. Semua kegiatan tersebut dirangkum guna menyambut 2 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus nanti. "Bergandeng Tangan, Merenda Damai" itulah tema acara itu.
Tentu saja, hajatan tersebut digelar Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Mulai dari Duek Pakat Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh "Pikee Keu Damee" hingga Lomba Lukis dan Menulis Surat Anak untuk Perdamaian Aceh.
Faurizal Moechtar, ST, staf BRA Pusat kepada Waspada, kemarin mengatakan pihaknya juga akan menggelar Tour Perdamaian Keliling Aceh, pada 15 Agustus nanti. Katanya, kegiatan tersebut akan 15 becak yang mulai bergerak dari Banda Aceh.
Untuk tour perdamaian tersebut, para peserta akan mengusung atribut-atribut serta buletin perdamaian ntuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. "Kita targetkan 10 hari keliling Aceh itu akan selesai," ujarnya.
Bukan cuma itu, dalam tour tersebut selain abang becak, juga akan ikut puluhan mahasiswa yang akan diawal foreder serta satu unit mobil ambulan. "Setiap masuk kabupaten kota mereka akan disambut dan dilepaskan oleh BRA setempat," sebut Faurizal yang juga Koordinator Bidang Ekonomi BRA.
Menurut mantan aktivis ini, ketika berbicara damai mendengar suara hati anak-anak adalah langkah tidak salah dan bijaksana. Toh, anak-anak paling punya hak menikmati perdamaian ini. Dan itulah yang dilakukan lembaga reintegrasi ini dalam memperingati dua tahun perjanjian damai yang diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
"Saya terharu melihat goresan anak-anak. Apresiasi mereka tentang perdamaian sangat luar biasa," kata Faurizal mengomentari aksi 210 anak-anak di Banda Aceh yang mengikuti lomba lukis dimaksud. Acara yang digelar di kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Senin (6/8) petang itu, berlangsung sukses.
Begitu pula dengan Tijana Syarafana, salah satu peserta lomba lukis. Siswa SD Percontohan Lamlagang mengaku senang dengan kondisi Aceh yang sudah damai. "Kemana-mana kita nggak takut lagi, nggak ada suara bom," celotehnya.
Ketua Harian BRA, M Nur Djuli yang menyempatkan diri menengok apresiasi anak-anak di atas kertas menyambut positif kegiatan tersebut. Bukan hanya sebatas itu, dia juga mengaku kagum dan tak menyangka, ketika melihat lukisan karya anak-anak. "Bagus-bagus dan menarik," komentarnya.
Goresan anak-anak yang dilihat Nur Djuli bervariasi, ada yang menggambar orang bersalaman, pos TNI dan GAM, bendera merah putih dan bendera GAM. "Isinya tidak ada lagi unsur-unsur kekerasan dalam pikiran anak-anak serang, semuanya sudah damai. Positif sekali," sebutnya.
Kendati menarik, kita harus menunggu sepekan lagi untuk menunggu siapa pemenangnya. Tapi yang penting damai sudah tersemai.
Dipublish pada 07/08/07
Top 5 Popular of The Week
-
RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradara...
-
BANJIR kembali menjadi momok menakutkan di Aceh. Kali ini wilayah Pesisir Barat Selatan. Dampaknya seperti sudah kita maklumi bersama. Ta...
-
SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spand...
-
"HAI Apa Lambak, ho ka treb hana deueh-deueh, --hai, Apa Lambak kemana saja sudah lama tidak kelihatan," begitulah sapaan seorang ...
-
ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca t...




