budaya, feature, sastra, Sosok
Dia adalah jebolan Bengkel Theater yang dipimpin 'Si Burung Merak', begitulah julukan penyair lintas generasi, WS Rendra. "Ini bukan yang pertama, tiga hari meninggal Rendra, kita juga menggelar acara tahlilal di Aceh," sebut Mustika, suami anak angkat Rendra di Aceh, Dek Na.
Acara 40 hari berpulangnya WS Rendra diperingati di Taman Budaya Aceh, Rabu (16/9). Rendra meninggal dunia dalam usia 74 tahun pada Kamis sekitar pukul 21:30 WIB setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok Jawa Barat.
Seratusan seniman, budayawan, pekerja seni larut dalam doa mengirimkan sedekah doa untuk pria yang lahir di Solo 7 November 1935. Mereka menitik air mata mengenang tokoh besar tersebut. "Rendra punya hubungan emosional paling erat dengan Aceh," sebut dia.
Sebelum tahlil dan samadiyah, para seniman juga menggelar baca puisi serta segala sesuatu yang berbau seni. LK Ara, Din Saja, Rafly dan Fozan Santa, tampil menyemarakkan peringatan tersebut. "Semuanya karena bantuan teman-teman," sambung Jamal Syarif, salah seorang panitia.
Seperti disebutkan Syarif, acara buka puasa dan doa bersama untuk arwah WS Rendra mendapat dukungan dari seniman. Taloe, Gemasastrin, Seuramoe Raggae, Komunitas Drummer dan Perkusi Aceh (KODA), Teather Rongsokan dan Dewan Kesenian Aceh.
Menurut Mustika, hubungan kedekatan Rendra dengan Aceh bukan sebatas baca puisi saja. "Beliau menjadikan Aceh ini sebagai rumah kedua. Jika ada agenda lain yang lebih besar berbarengan di Aceh dan tempat lain, beliau pasti akan prioritaskan Aceh," ujarnya.
Bagi pia berambut gondrong itu, Rendra bukan hanya seorang panutan, tapi lebih dari itu. Mustika sendiri masih ingat ketika WS Rendra mengatakan, Aceh merupakan pelopor bahasa Melayu baru yang diperkenalkan Hamzah Fansyuri, ahli tasawuf pertama yang menggunakan bahasa Melayu dalam sastra.
"Dari Aceh inilah banyak orang tekun berusaha menerjemahkan bahasa-bahasa dari Arab, India, Parsi sehingga semakin matang menjadi sastra yang tinggi. Hal itu pertama kali terjadi pada masa Hamzah Fansyuri," kata Rendra seperti dikutip Mustika.
Hamzah Fansyuri adalah ahli tasawuf dan sastrawan asal Singkil, Aceh pada abad 16, ia merupakan tokoh penting dalam kerajaan Aceh. Ia memanfaatkan bahasa Melayu sebagai media penulisan sastra. Salah satu sajaknya yang terkenal adalah Syair Perahu yang mengibaratkan tubuh manusia sebagai perahu dalam samudera kehidupan.
Aceh dan Rendra
Kedekatan Rendra dengan Aceh punya ikatan yang kuat. Dialah satu-satunya dramawan yang diundang mementaskan tetaer di halaman Masjid Raya Banda Aceh. Rendra pula yang menulis syair “Universita Syiah Kuala, Guru Kami” yang digubah oleh musisi almarhum Muchtar Embut, menjadi hymne Unsyiah.
Rendra juga memperoleh penghargaan “Anugerah Budaya” bersama-sama dengan budayawan dan tokoh adat Aceh lain pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV 2004 silam. Bersama “Presiden Penyair Indonesia” Sutardji Calzoum Bachri, Rendra juga membacakan puisinya di pentas utama Taman Ratu Safiatuddin.
Bukan sebatas itu, sejumlah puisi dengan tema Aceh pernah lahir dari tangan Rendra. Balada Tjut Nyak Dhien, puisi yang mengisahkan tentang pejuang Aceh Tjut Nyak Dhien ditulis pada 10 Juli 1963. Justru ketika Rendra belum pernah menginjakkan kaki di Aceh.
Gorenan penanya juga terpahat di prasasti di DPR Aceh. Puisinya tentang Universitas Syiah Kuala yang berjudul “Universitas Syiah Kuala, Guru Kami,” mendapat tempat di hati para akademisi kampus itu.
Puisi yang dicipta Rendra 1 Juli 1970, kemudian digubah oleh komponis Mochtar Embut menjadi Hymne Universitas Syiah Kuala yang dinyanyikan setiap upacara-upacara kampus.
"Dia budayawan yang tak hanya dikenal luas di nasional, internasional. Dia punya hubungan khusus dengan Unsyiah, pencipta hymne yang selalu di bacakan," ungkap Rektor Unsyiah, Prof Dr Darni M.Daud, MA kepada Waspada baru-baru ini.
Katanya, subtansi hymne yang diciptakan Rendra sungguh luar biasa. Menurut Darni, dari kacamatanya, Rendra menginginkan kita menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi, dan mensejahterakan. "Kami akan meneruskan cita-cita itu, tidak hanya sekadar menyanyikan setiap Dies Natalies."
Menurut Darni, pihaknya merasa ada sesuatu kehilangan sangat mendalam yang amat sukar diungkapkan. "Dari sisi cita-cita, spirit dan semangat keluhurhan. Rendra mempunyai daya jangkau yang luar biasa. Tak berlebihan, ini merupakan kehilangan terbesar Unsyiah," ungkap dia.
Pun begitu, ada nuansa lain yang membekas dalam perasaan Rektor Unsyiah itu. Suasana penuh akrab masih membayang dalam ingatan Darni M. Daud. Kendati sudah lewat setahun silam, ucapan tulus pria yang dijuluki 'Burung Merak' ini dimemori Darni melekat erat.
"Pak rektor, kalau ada undangan ke sini dan beradu dengan yang lain, saya akan prioritaskan Unsyiah." Darni masih teringat pertemuan setahun silam. Dalam sebuah jamuan makan malam di kediaman resminya. Pertemuan itu masih dalam suasana Dies Natalies Unsyiah, Darussalam.
Sayangnya, pada Dies Natalis ke-48, pada 2 September lalu, jasad WS Rendra tak hadir lagi. Hanya karyanya yang mengalun "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami..." Nyanyian itu akan dilakukan pada setiap acara resmi kampus Jantong Hate Rakyat Aceh.
Foto: ilhamrizqi.com
budaya, feature, sastra
Kemeriahan PKA V akan terasa ketika pertunjukan tarian massal tampil hari ini, 5 Agustus. Saat itulah di hadapan Kepala Negara tarian massal yang dibungkus dalam judul Geunta Raya akan tampil. Yang menarik dari tari ini adalah memperlihatkan keberagaman kesenian di Aceh.
Koreografer tarian massal Geunta Raya, Murtala kepada Waspada, Selasa (4/8) menjelaskan, tarian tersebut nantinya akan menampilkan 40 penari Saman, 160 pemusik Rapa’i Geleng, 14 penari Tari Guel dikolaborasikan dengan pembacaan puisi, 24 penari Seudati yang diperkuat Syeh Lah Geunta, serta 50 penari Tari Melayu.
Kata dia, pertunjukan itu juga menghadirkan orkestra Rapa’i Uroh serta 30 penari yang mengibarkan bendera negara-negara dunia. "Ini sebagai bentuk terima kasih kita kepada warga dunia atas bantuan, simpati dan empati mereka kepada Aceh selama ini," ujar pakar tari Aceh ini.
Murtala menjelaskan, Geunta Raya yang berarti gema yang besar itu ditanganinya bersama Kaka, juga seorang koreografer muda Aceh. Musik sendiri oleh Heri Sandy dkk. "Ini melukiskan kebangkitan seni dan budaya Aceh pasca konflik dan tsunami," urai alumnus STSI Padang Panjang ini.
Pria yang sedang menyelesaikan kuliah magister di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menyebutkan Tarian Massal Geunta Raya ini dikemas dalam sebuah pertunjukkan berdurasi 20 menit. "PKA ini membuat berbeda dengan even sebelumnya. Karena PKA ini juga menjadi momen orang Aceh untuk berterima kasih kepada dunia," urai Murtala.
Dia menyebutkan untuk mendukung tarian tersebut, pihaknya melibatkan sejumlah sanggar yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sanggar itu antara lain, Sanggar Cut Nyak Dhien, Buana, Nurul Alam, Chit Ka Geunta, Mahasiswa Aceh Barat Daya, Rampoe, Kepies Ijo, Keluarga Negeri Antara, Fakultas Hukum Unsyiah, Man Model, Cakra Mata dan mahasiswa FKIP Unsyiah.
PKA yang menghabiskan dana Rp4,5 miliar ini selain diikuti 23 kabupaten/kota, juga ikut dimeriahkan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Yogjakarta dan Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. PKA ini juga ikut dihadiri Malaysia, China, Korea Selatan, Austria, Jerman, Perancis, Italia, Turki dan Portugal.
Even budaya lima tahunan ini akan berlangsung dari 2-11 Agustus nanti. Baru pada 5 Agustus besok, Presiden SBY akan membukanya di Stadion H Dimurthala, Lampineung. Kegiatan budaya yang dipertontonkan antara lain atraksi seni tradisional, permainan rakyat, gebyar seni, seminar budaya dan lain-lain.
Foto: imgbuddy.com
hiburan, sastra, Sosok

MERWAN Yusuf tidak membual ketika memberi 'khutbah' seni kepada pengunjung Pameran Lukisan Mahdi Abdullah, di Episentrum Ulee Kareng, Banda Aceh, akhir pekan kemarin. Kurator jebolan Perancis ini tidak pula sedang memuji. Pasalnya lukisan realis perupa Aceh itu memang benar-benar punya roh dahsyat.
Dia juga bukan sekadar bersuara. Sebab, ini bisa dilihat dari semua lukisan perupa Aceh itu yang bertema kehidupan masyarakt kalangan bawah. Fenomena-fenomena yang ada di dalam lukisan seperti terlihat nyata. "Lukisan-lukisan Mahdi memberi optimisme," sebut kurator kelahiran Banda Aceh itu.
Menurut dia, ciri khas itu adalah menggunakan warna yang cerah. "Itu tandanya seorang pelukis itu tidak menyembunykan fakta. Apa adanya, setiap apa yang dia pikirkan langsung dia tuangkan dalam kanvas," urai ketika ditemui Waspada di Banda Aceh, baru-baru ini.
Pameran Lukisan Mahdi Abdullah, yang mengusung tema “Histori(kri)sme” itu sudah digelar sejak 23 Februari lalu dan berakhir pada 8 Maret nanti. Pameran tunggal ini sudah kerap digelar Mahdi di Aceh. Namun, Mahdi acap kali diundang berpameran di Tokyo, Jepang, Malaysia, Jakarta dan Bandaung.
"Melihat lukisan Mahdi yang punya roh kuat itu, sudah saatnya pelukis Aceh maju ke tengah. Tak boleh berada di pinggiran lagi," ungkap lulusan jurusan seni rupa di Eiocole Nationale Superiuer des Beaux Arts yang melanjutkan studi sejarah dan peradaban di Ecole des Hautes en Sciences Sociales, di Paris.
Merwan, tak bisa menyembunyikan kekagumannya goresan kelokalan Mahdi dalam merekam realitas keacehan. "Goresan-goresan kotemporernya selalu merekam realitas yang terkadang alpa dari polesan seniman lain," tutur Azhari, seorang seniman Aceh.
Siapa sebenarnya Mahdi Abdullah? Pria sederhana, kelahiran Banda Aceh 26 Juni 1960 sudah cukup asam garam dalam dunia seni rupa Aceh. Bukan hanya pameran tunggal, dia juga acap menggelar pameran bersama, baik di dalam maupun di luar negeri.
Tentu saja, karya-karyanya dikoleksi berbagai bangsa di dunia. Bukan hanya para kolektor di dalam negeri, namun di negeri juga. Contonya saja, para kolektor dari Negeri Matahari Terbit. Tulisan Mahdi lainnya juga dibawa ke Eropa, bahkan parlemen Uni Eropa.
Glyn Ford, anggota parlemen Eropa asal Inggris bahkan memboyong satu lukisan Mahdi Abdullah buat dipajang di sana yakni yang berjudul 'Di Antara'. Ford berkunjung ke Aceh pada akhir 2006 silam, sebagai Ketua Misi Pemantauan Pilkada Uni Eropa di tanah rencong. "Lukisan ini akan saya pajang di Parlemen Eropa," kata Mahdi mengutip komentar Ford.
Tidak hanya itu, dia juga 'sukses' menggambarkan kedahsyatan tsunami di kanvasnya. Seperti lukisan perahu dan kapal yang terbang dan gelombang raya yang mengepung Masjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh. Lukisan yang disebutkan terakhir malah sudah 'terbang' ke Eropa juga.
Ketika bincang-bincang dengan Waspada, sarjana Teknik Arsitektur ini menjelaskan konsepnya dalam berkarya. Katanya, karya seni adalah manivestasi dari narasi realitas manusia dan lingkungan. "Saya percaya bahwa subjek dan objek pendukung kehidupan realitas turut berperan dalam ekspresi yang sedang berproses," ungkap Mahdi Abdullah.
'Proses' itulah yang digoreskan lagi pada pamerannya kali ini. Nuansanya amat berbeda. Tak percaya lihat saja lukisan 'Taman Sari' yang digandrungi mayoritas pengunjung. Bagaimana tidak, goresan tersebut 'diperankan' oleh lima model yang diilustrasikan dari daun pisang. "Gambarnya cerah dan benar-benar hidup," ungkap Silvie, seorang pengunjung.
Menyikapi itu, ayah tiga putra satu putri ini mengatakan, setiap penafsiran itu diserahkannya kepada para penikmat seni. termasuk dengan model yang ditampilkan berupa daun pisang. "Ini memang hal baru," ucap dia.
Pun begitu, nilai filosofis yang ingin ditonjolkannya tak lain untuk mengungkapkan 'keresahannya' dalam ranah Aceh. Memang diakuinya, dalam pameran kal ini dia membuat seri daun pisang, gara-gara punya latar belakang daerah, di mana kaum hawa sering ditangkap karena memakai baju yang tidak layak.
"Jadi saya mengambil proses itu dengan membuat tubuh wanita dibalut dengan daun pisang. Kenapa wanita? ya mungkin karena saya laki-laki mungkin senang sama wanita, itu memang sudah kodrati," papar dia. Bukan hanya sebatas itu, kata Mahdi, daun pisang juga menggambarkan proses perjalanan waktu. Nah betulkan?
Top 5 Popular of The Week
-
RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradara...
-
BANJIR kembali menjadi momok menakutkan di Aceh. Kali ini wilayah Pesisir Barat Selatan. Dampaknya seperti sudah kita maklumi bersama. Ta...
-
SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spand...
-
"HAI Apa Lambak, ho ka treb hana deueh-deueh, --hai, Apa Lambak kemana saja sudah lama tidak kelihatan," begitulah sapaan seorang ...
-
ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca t...



