Headline News
Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue dalam bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA dan Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS berlangsung pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda semester genap TA 2014/2014, Sabtu (22/8) di Auditorium Prof Ali Hasjmy Banda Aceh.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh membuka peluang kepada semua pihak yang ingin melakukan kerja sama, kali ini pemerintah Kabupaten Simeulue sepakat untuk menandatangani naskah kerjasama dengan UIN Ar-Raniry yang dilaksanakan dalam prosesi wisuda UIN tahun 2015.
“UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Simeulue, penandatanganan MoU ini telah lama direncanakan namun baru terlaksana hari ini dan dilakukan pada acara resmi yaitu dalam Rapat Senat Terbuka,” ujar Farid.
Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Simeulue dan mereka menerimanya dengan baik, pada tahun 2015 ini UIN Ar-Raniry memberikan perhatian khusus kepada putra-puteri Simeulue saat masuk ke UIN Ar-Raniry, sehingga mereka dapat menimba ilmu di UIN Ar-Raniry.
Selanjutnya kata Farid, UIN Ar-Raniry juga memberikan perhatian kepada masyarakat di Kabupaten Simeulue, misalnya mengikirimkan dosen dalam program pengabdian masyarakat, biasanya berlangsung selama 20-30 hari berada di daerah, ke depan juga akan ada pengabdian mahasiswa dalam bentuk KPM yang akan ditempatkan di Simeulue.
Sementara itu Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS mengatakan, atas nama pemerintah dan masyarakat Simeulue memberikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan kerjasama yang diawali dengan penandatanganan naskah kerjasama antara UIN Ar-Raniry dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue.
“Alhamdulillah ke depan kita harapkan putera-puteri dari Kabupaten Simeulue lebih banyak mendapat kesempatan untuk dapat menuruskan pendidikannya di UIN Ar-Raniry ini, dalam tiga tahun terakhir ini disambut baik program-program oleh Rektor UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Riswan menyebutkan, tahun ini ada 115 orang putera-puteri dari Kabupaten Simeulue yang mengikuti tes masuk ke UIN Ar-Raniry, 106 diantaranya lulus seleksi, selebihnya ada yang diberi kesempatan lulus rekomendasi ke prodi-prodi tertentu, serta sebagian lainnya nilai nya masih dibawah standar.
“Kita sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pimpinan UIN Ar-Raniry, dan ini kesempatan yang sangat luar biasa bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Simeulue,” demikian Riswan.
Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA dan Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS berlangsung pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda semester genap TA 2014/2014, Sabtu (22/8) di Auditorium Prof Ali Hasjmy Banda Aceh.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh membuka peluang kepada semua pihak yang ingin melakukan kerja sama, kali ini pemerintah Kabupaten Simeulue sepakat untuk menandatangani naskah kerjasama dengan UIN Ar-Raniry yang dilaksanakan dalam prosesi wisuda UIN tahun 2015.
“UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Simeulue, penandatanganan MoU ini telah lama direncanakan namun baru terlaksana hari ini dan dilakukan pada acara resmi yaitu dalam Rapat Senat Terbuka,” ujar Farid.
Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Simeulue dan mereka menerimanya dengan baik, pada tahun 2015 ini UIN Ar-Raniry memberikan perhatian khusus kepada putra-puteri Simeulue saat masuk ke UIN Ar-Raniry, sehingga mereka dapat menimba ilmu di UIN Ar-Raniry.
Selanjutnya kata Farid, UIN Ar-Raniry juga memberikan perhatian kepada masyarakat di Kabupaten Simeulue, misalnya mengikirimkan dosen dalam program pengabdian masyarakat, biasanya berlangsung selama 20-30 hari berada di daerah, ke depan juga akan ada pengabdian mahasiswa dalam bentuk KPM yang akan ditempatkan di Simeulue.
Sementara itu Bupati Simeulue Drs. H. Riswan NS mengatakan, atas nama pemerintah dan masyarakat Simeulue memberikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan kerjasama yang diawali dengan penandatanganan naskah kerjasama antara UIN Ar-Raniry dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue.
“Alhamdulillah ke depan kita harapkan putera-puteri dari Kabupaten Simeulue lebih banyak mendapat kesempatan untuk dapat menuruskan pendidikannya di UIN Ar-Raniry ini, dalam tiga tahun terakhir ini disambut baik program-program oleh Rektor UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Riswan menyebutkan, tahun ini ada 115 orang putera-puteri dari Kabupaten Simeulue yang mengikuti tes masuk ke UIN Ar-Raniry, 106 diantaranya lulus seleksi, selebihnya ada yang diberi kesempatan lulus rekomendasi ke prodi-prodi tertentu, serta sebagian lainnya nilai nya masih dibawah standar.
“Kita sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pimpinan UIN Ar-Raniry, dan ini kesempatan yang sangat luar biasa bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Simeulue,” demikian Riswan.
Headline News
Dua uversitas di Aceh yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry secara resmi menjalin kerja sama dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Trengganu Malaysia dalam bidang pendidikan.
Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dan Rektor UIN Prof De Farid Wajdy dengan Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim.
Prosesi penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di masing-masing kampus, , Rabu (19/8) pada waktu yang berbeda. "Kerjasama dengan universitas kerajaan Malaysia ini adalah awal dari kemajuan peradaban pendidikan, terutama pendidikan Islam, mengingat UniSZA berlatar kampus Islam," kata Prof. Samsul dalam kata sambutannya.
Kata dia, selama ini Unsyiah sudah kerap menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) seperti join seminar setiap tahun. Selain itu, ada juga kerjasama berupa konsorsium ilmu pendidikan dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia.
Sementara itu, Prof. Yahaya mengaku, UniSZA saat ini merupakan salah satu kampus favorit yang terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Mahasiswa di UniSZA berasal dari multi etnis, bahkan ada mahasiswa dari luar negeri seperti Kazakhstan dan beberapa negara ASEAN.
“Letak kampus UniSZA hampir sama dengan Aceh, karena diapit oleh lautan. Jadi, penghasilan terbesar masyarakat Trengganu berasal dari sektor perikanan,” ujar Guru Besar dari UKM tersebut.
Menurutnya, jumlah mahasiswa di UniSZA sekarang berkisar 9 ribu orang. Dan tahun depan akan bertambah menjadi 10 ribu orang. Bahkan, tambahnya, pelajar dari Palestina dapat berkuliah gratis di UniSZA tanpa dipungut biaya apapun.
"Kami ingin membantu seluruh pelajar di seluruh penjuru dunia. Kolaborasi dengan Unsyiah ini juga bagian dari itu. Namun, kami masih membutuhkan tenaga pengajar untuk bidang farmasi dan medis," ungkap dia.
Pada hari yang sama, Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim juga menjalin kerjasama dengan UIN Ar-Raniry. “Kita berharap dengan penandatanganan nasakah kerjasma ini, UIN dan UnisZA dapat menghasil program-program pendidikan yang mengedepankan mutu dan kualitas,” imbuh Datuk Yahya.
Sedang Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA menyebutkan baik kerjasama itu. “UIN Ar-Raniry Aceh ini terus meningkatkan hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus luar negeri, khusus dengan kampus di Malaysia telah dilakukan beberapa bidang kerjasama dengan berbagai kampus yang ada di Malaysia,” ujarnya.
Kata dia, hubungan antara Aceh dengan Malaysia telah lama terjalin, begitu halnya dengan kampus Ar-Raniry ini, sejak tahun 1980 telah ada mahasiswa yang berasal dari Malaysia. "Itu artinya Kampus Ar-Raniry ini telah menjalin hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus di Malaysia sejak sebelum tahun 80-an," sebut dia.
Farid menyebutkan, beberapa bulan lalu UIN menerima mahasiswa dari Malaysia yang di lakukan dengan dua jalur, yaitu jalur transfer di mana mahasiswa melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, dan jalur kedua mereka mengikuti tes untuk masuk mulai semester pertama, tes telah dilaksanakan di Malaysia dan diikuti oleh lebih kurang 16 sekolah menengah yang ada di Malaysia.
“Hubungan UIN Ar-Raniry dan Aceh dengan Malaysia bukan lah hal yang baru, oleh karena itu setiap pertemuan dan silaturrahim yang dilakukan oleh UIN Insyaallah aka nada tindak lanjut, sehingga ke depan dapat ditingkatkan kerjasama," sebut dia. [mnw]
Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dan Rektor UIN Prof De Farid Wajdy dengan Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim.
Prosesi penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di masing-masing kampus, , Rabu (19/8) pada waktu yang berbeda. "Kerjasama dengan universitas kerajaan Malaysia ini adalah awal dari kemajuan peradaban pendidikan, terutama pendidikan Islam, mengingat UniSZA berlatar kampus Islam," kata Prof. Samsul dalam kata sambutannya.
Kata dia, selama ini Unsyiah sudah kerap menjalin kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) seperti join seminar setiap tahun. Selain itu, ada juga kerjasama berupa konsorsium ilmu pendidikan dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia.
Sementara itu, Prof. Yahaya mengaku, UniSZA saat ini merupakan salah satu kampus favorit yang terletak di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Mahasiswa di UniSZA berasal dari multi etnis, bahkan ada mahasiswa dari luar negeri seperti Kazakhstan dan beberapa negara ASEAN.
“Letak kampus UniSZA hampir sama dengan Aceh, karena diapit oleh lautan. Jadi, penghasilan terbesar masyarakat Trengganu berasal dari sektor perikanan,” ujar Guru Besar dari UKM tersebut.
Menurutnya, jumlah mahasiswa di UniSZA sekarang berkisar 9 ribu orang. Dan tahun depan akan bertambah menjadi 10 ribu orang. Bahkan, tambahnya, pelajar dari Palestina dapat berkuliah gratis di UniSZA tanpa dipungut biaya apapun.
"Kami ingin membantu seluruh pelajar di seluruh penjuru dunia. Kolaborasi dengan Unsyiah ini juga bagian dari itu. Namun, kami masih membutuhkan tenaga pengajar untuk bidang farmasi dan medis," ungkap dia.
Pada hari yang sama, Rektor UniSZA Prof. Datuk Dr. Yahya Ibrahim juga menjalin kerjasama dengan UIN Ar-Raniry. “Kita berharap dengan penandatanganan nasakah kerjasma ini, UIN dan UnisZA dapat menghasil program-program pendidikan yang mengedepankan mutu dan kualitas,” imbuh Datuk Yahya.
Sedang Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA menyebutkan baik kerjasama itu. “UIN Ar-Raniry Aceh ini terus meningkatkan hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus luar negeri, khusus dengan kampus di Malaysia telah dilakukan beberapa bidang kerjasama dengan berbagai kampus yang ada di Malaysia,” ujarnya.
Kata dia, hubungan antara Aceh dengan Malaysia telah lama terjalin, begitu halnya dengan kampus Ar-Raniry ini, sejak tahun 1980 telah ada mahasiswa yang berasal dari Malaysia. "Itu artinya Kampus Ar-Raniry ini telah menjalin hubungan silaturrahim dengan kampus-kampus di Malaysia sejak sebelum tahun 80-an," sebut dia.
Farid menyebutkan, beberapa bulan lalu UIN menerima mahasiswa dari Malaysia yang di lakukan dengan dua jalur, yaitu jalur transfer di mana mahasiswa melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, dan jalur kedua mereka mengikuti tes untuk masuk mulai semester pertama, tes telah dilaksanakan di Malaysia dan diikuti oleh lebih kurang 16 sekolah menengah yang ada di Malaysia.
“Hubungan UIN Ar-Raniry dan Aceh dengan Malaysia bukan lah hal yang baru, oleh karena itu setiap pertemuan dan silaturrahim yang dilakukan oleh UIN Insyaallah aka nada tindak lanjut, sehingga ke depan dapat ditingkatkan kerjasama," sebut dia. [mnw]
budaya, feature, Featured, Headline News, humaninterest
ACEH memasuki babak baru dalam khasanah menjaga kearifan lokal. Mengaji
magrib itu sudah turun temurun berlangsung di tanoh Aceh. Hanya saja
dalam tiga dekade terakhir, kebiasaan itu luntur dalam kehidupan warga
Serambi Makkah. Kenapa?
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
Jika dulu, mengaji magrib atas inisiatif keluarga, kini diambil alih pemerintah. Maka umara pun melalui Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Minggu (24/7) malam, di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, meresmikan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.
Pencanangan Gemmar Mengaji, kata Suryadharma bertujuan untuk menghidupkan kembali kebiasaan mengaji selepas magrib. “Gerakan ini untuk menghindari generasi muda agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan,” ujar dia.
Gerakan itu mengacu pada kondisi generasi muda yang kian tak terurus. "Generasi sekarang lumayan banyak yang terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji misalnya melawan orang tua dan gurunya di sekolah," kata Suryadharma.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengakui, kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu makin merosot. "Akibatnya, kita harus bayar mahal dengan munculnya generasi muda Aceh, baik asli Aceh maupun yang datang dari luar, buta huruf al-Quran,” katanya.
Bicara Magrib mengaji, Tgk H Faisal Aly, seorang ulama dayah di Aceh Besar menilai, langkah pemerintah itu diharapkan bisa mengoptimalkan kembali kebiasaan masyarakat Aceh, yang mulai luntur.
"Bagi Aceh bukan pencananganan, kebiasaan magrib mengaji itu sudah lama hidup di tengah masyarakat. Memang ada beberapa kampung tak optimal lagi," sebut pimpinan dayah ini.
Kata dia, dengan semangat pemerintah itu, dia mengharapkan bisa optimal kembali. "Tapi yang paling penting, bagaimana Pemerintah Aceh mendorong aparat desa untuk membuat langkah strategis," ujar H Faisal Aly.
Menurut Ketua PW NU Aceh ini, langkah jitu itu tak tak cukup dengan pencanangan, jika tak dibuat hal-hal yang mendukung. "Pemerintah Aceh perlu membuat Peraturan Gubernur soal pengaturan waktu kegiatan hiburan, termasuk tivi tidak boleh hidup dari jam enam 6 hingga 8 malam," jelas dia.
Faisal Aly tak menyalahkan konflik, akibat lunturnya kearifan lokal itu. Tapi lebih pada kemauan dan kepedulian orang tua dan anak Aceh yang menipis rasa tanggung jawabnya. "Konflik tak mengganggu balai-balai pengajian, ini lebih pada keluarga yang abai," papar dia.
Tak salah konflik
Pegiat kebudayaan, Sulaiman Tripa menilai kemerosotan itu tidak bisa digolongkan sebab konflik. "Di sini peran orang tua, yang mungkin abai terhadap kehidupan anak, sehingga banyak anak justru tidak mampu baca al-Qur’an," jelas dia.
Lalu, katanya, untuk kehidupan kolektif, mungkin konflik bisa jadi salah satu sebab, dalam hal, khususnya tidak bisa lagi anak-anak mengaji waktu malam karena kondisi waktu itu demikian.
Menurut dia, hal ini seharusnya bisa diantisipasi orangtua secara personal. "Dulu orang tidak malu bila tidak mampu, mereka akan menyerahkan anaknya kepada teungku-teungku untuk dibina secara santun," tuturnya.
Sedangkan orang yang mampu, akan mengajarkan sendiri di rumah. "Sekarang kondisi itu berbeda, karena banyak orang tua tidak peduli dengan ilmu agama anaknya," ungkap Pengajar Hukum dan Masyarakat pada FH Unsyiah ini.
Menyikapi Gemmar Mengaji, Sulaiman melihat gerakan baca al-Qur’an sehabis magrib, penting bagi upaya membangkitkan kembali meunasah sebagai cultural center. "Ini akan menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang menyatu dengan Islam," ujarnya.
Lebih jauh, dosen yang aktif menulis ini menguraikan, bila membuka sejarah Aceh, maka ada hubungan yang erat antara kejayaan Islam dengan upaya-upaya yang dilakukan. "Dulu ada kesadaran menguatkan fondasi terlebih dahulu, baru kemudian memetik kejayaannya," tukasnya.
Dari kacamata Sulaiman, apa yang dilakukan generasi terdahulu, hingga empat abad lebih kejayaannya, patut dihidupkan kembali. "Konon, Belanda sekalipun yang sudah pernah berhasil menduduki Aceh, tapi tidak bisa mengoyahkan kejayaan Islam tersebut," urainya.
Mengulik Magrib mengaji, Sulaiman melihat sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Kata dia, pendidikan tersebut, kemudian dipisahkan menurut fase-fase tertentu. Misalnya anak-anak yang belum siap merantau, ia akan belajar mengaji di meunasah.
Lalu, anak yang lebih kecil lagi, dididik di rumah. Sedangkan yang menanjak remaja, akan memilih meudagang (mencari ilmu di dayah). "Pada intinya orang tua perlu berperan aktif, jangan mengabaikan masalah itu," katanya.
Hal senada diutarakan, Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh. "Fungsi orang tua yang paling penting. Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Bagaimana anak mau mengaji, kalau orang tuanya masih di depan tivi," urainya.
Yakob menyambut baik Program Gemmar Mengaji tapi baginya yang tak kalah penting juga adalah gerakan moral mematikan televisi saat dan usai magrib. "Ini memang program nasional, tapi di Aceh sudah turun temurun, hanya saja banyak yang mengabaikan," katanya.
Lalu, sarannya, mendidik anak itu harus dimulai sejak dia dalam kandungan. Katanya, selama hamil, sebagian calon ayah dan ibu, sering mendatangi mini market, pusat perbelanjaan, atau café dan lainnya.
Disebutnya, selama mengandung anak, sebagian calon ibu dan ayah, cuma ahli mengotak-atik ponsel dan remot televisi. "Bukan semestinya yang banyak melangkah dan menetap dalam masjid, semestinya harus rajin membuka buku atau kitab yang dianjurkan agama suci," papar Yakob. [a]
budaya, feature, Featured, Headline News
DINGIN yang menggelayut di anjungan Aceh, kompleks Taman Mini Indonesia
Indah, mengingatkan Bengi akan tanah kelahirannya, dataran tinggi Gayo.
Sabtu malam, (10/11), seusai membawa Tari Munalo, serta menonton Didong
Jalu, kerinduannya pun terobati.
Malam Minggu kemarin, hampir lima ratusan warga Gayo se Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, di Taman Mini. Hajatannya bukan kenduri usai panen kopi, tapi bersilaturrahmi.
Para sesepuh warga Gayo yang menggelar Halal bihalal di sana, merasa amat spesial dengan kehadiran Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. Bagaimana tidak, Nazar juga mengukuhkan pengurus baru Ikatan Musara Gayo se Jabodetabek, pada malam itu.
Bukan cuma acara seremoni saja. Ikatan Musara Gayo juga membuka stand pameran. Menariknya di pameran tersebut juga disediakan kupi jelabok, Lepak dan masakan khas Aceh Tengah dan Bener Meriah lainnya yang dimasak langsung di tempat.
Lepas kangen itu juga diwarnai dengan lomba Didong alias Didong Jalu. Dua grup dari Jakarta dan Bandung 'berbalas pantun' malam itu. Namun, warga Gayo di Parahiyangan unggul dalam lomba tersebut. Pemenang mendapat hadiah Rp 1,5 juta.
Kidung kampung halaman, juga dilantunkan para seniman Gayo. Tentu saja termasuk lagu wajib 'Tawar Sedenge' karya A Moese. Moese seorang seniman kawakan Gayo yang Agustus lalu menghembuskan nafas terakhir. Dia menggubah lagu tersebut pada 1956 saat berusia 22 tahun.
Didong serta kidung lainnya bukan saja mengobati hati Rosimah Bengi, mahasiswi semester V salah satu universitas di Serang, Banten. Ratusan warga lainnya juga punya asabat yang sama. "Kami ikut latihan di Sanggar Buntul Kubu," kata Bengi.
Seorang sepuh Gayo, Usman Nuzuli Hatta, malam itu mengajak semua warga Aceh dari berbagai suku untuk melestikan budaya-budaya sendiri, meski berada diperantauan. Harapan itu bukan cuma sebatas angan.
Buktinya, sekelompok gadis cilik berusia dibawah sepuluh tahun membawakan Tari Kipes dengan sempurna. Bocah-bocah itu bernaung di bawah Sanggar Buntul Kubu. "Mereka generasi ketiga, yang sekarang juga belajar tarian tradisional Gayo," sambung Bengi lagi.
Dalam sambutannya, Usman mengharapkan agar ikatan primordial yang ada di perantauan juga harus ikut mendukung pembangunan di Aceh pada masa mendatang. "Pertahankan ikatan primordial ini dengan memberikan warna untuk mencapai kemajuan Aceh," tutur dia.
Wagub Muhammad Nazar, juga mengajak semua elemen untuk menjaga kondisi perdamaian untuk membangun Aceh tanpa terkecuali dan tanpa diskriminasi. Saat mengucapkan itu, tepukan pun riuah. "Kami berjanji, pemerintahan kami tidak ada diskriminasi," ujarnya.
Seperti diketahui, wilayah pedalaman seperti Aceh Tengah dan daerah lain yang berada di sekitar misalnya, selama ini terkesan diabaikan oleh penguasa di Banda Aceh. Sehingga kue pembangunan kurang mengucur ke sana.
"Kalau dulu ada daerah terisolir, Insya Allah ke depan tidak boleh ada lagi," papar Nazar yang kembali disambut tepuk tangan, apalagi Wagub juga sekali-kali menyelingi hadih maja Gayo dalam sambutannya.
Dibawah gerimis dan dinginnya pojokan anjungan Aceh makin membuat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah terasa bak berada di kampungnya. Apalagi malam itu, Didong Jalu, berlangsung hingga pagi dan disaksikan, Drs, Ishak MS, sekretaris daerah Bener Meriah. Semuanya menjadi bak di kampung sendiri. [a]
Malam Minggu kemarin, hampir lima ratusan warga Gayo se Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul di anjungan Nanggroe Aceh Darussalam, di Taman Mini. Hajatannya bukan kenduri usai panen kopi, tapi bersilaturrahmi.
Para sesepuh warga Gayo yang menggelar Halal bihalal di sana, merasa amat spesial dengan kehadiran Wakil Gubernur, Muhammad Nazar. Bagaimana tidak, Nazar juga mengukuhkan pengurus baru Ikatan Musara Gayo se Jabodetabek, pada malam itu.
Bukan cuma acara seremoni saja. Ikatan Musara Gayo juga membuka stand pameran. Menariknya di pameran tersebut juga disediakan kupi jelabok, Lepak dan masakan khas Aceh Tengah dan Bener Meriah lainnya yang dimasak langsung di tempat.
Lepas kangen itu juga diwarnai dengan lomba Didong alias Didong Jalu. Dua grup dari Jakarta dan Bandung 'berbalas pantun' malam itu. Namun, warga Gayo di Parahiyangan unggul dalam lomba tersebut. Pemenang mendapat hadiah Rp 1,5 juta.
Kidung kampung halaman, juga dilantunkan para seniman Gayo. Tentu saja termasuk lagu wajib 'Tawar Sedenge' karya A Moese. Moese seorang seniman kawakan Gayo yang Agustus lalu menghembuskan nafas terakhir. Dia menggubah lagu tersebut pada 1956 saat berusia 22 tahun.
Didong serta kidung lainnya bukan saja mengobati hati Rosimah Bengi, mahasiswi semester V salah satu universitas di Serang, Banten. Ratusan warga lainnya juga punya asabat yang sama. "Kami ikut latihan di Sanggar Buntul Kubu," kata Bengi.
Seorang sepuh Gayo, Usman Nuzuli Hatta, malam itu mengajak semua warga Aceh dari berbagai suku untuk melestikan budaya-budaya sendiri, meski berada diperantauan. Harapan itu bukan cuma sebatas angan.
Buktinya, sekelompok gadis cilik berusia dibawah sepuluh tahun membawakan Tari Kipes dengan sempurna. Bocah-bocah itu bernaung di bawah Sanggar Buntul Kubu. "Mereka generasi ketiga, yang sekarang juga belajar tarian tradisional Gayo," sambung Bengi lagi.
Dalam sambutannya, Usman mengharapkan agar ikatan primordial yang ada di perantauan juga harus ikut mendukung pembangunan di Aceh pada masa mendatang. "Pertahankan ikatan primordial ini dengan memberikan warna untuk mencapai kemajuan Aceh," tutur dia.
Wagub Muhammad Nazar, juga mengajak semua elemen untuk menjaga kondisi perdamaian untuk membangun Aceh tanpa terkecuali dan tanpa diskriminasi. Saat mengucapkan itu, tepukan pun riuah. "Kami berjanji, pemerintahan kami tidak ada diskriminasi," ujarnya.
Seperti diketahui, wilayah pedalaman seperti Aceh Tengah dan daerah lain yang berada di sekitar misalnya, selama ini terkesan diabaikan oleh penguasa di Banda Aceh. Sehingga kue pembangunan kurang mengucur ke sana.
"Kalau dulu ada daerah terisolir, Insya Allah ke depan tidak boleh ada lagi," papar Nazar yang kembali disambut tepuk tangan, apalagi Wagub juga sekali-kali menyelingi hadih maja Gayo dalam sambutannya.
Dibawah gerimis dan dinginnya pojokan anjungan Aceh makin membuat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah terasa bak berada di kampungnya. Apalagi malam itu, Didong Jalu, berlangsung hingga pagi dan disaksikan, Drs, Ishak MS, sekretaris daerah Bener Meriah. Semuanya menjadi bak di kampung sendiri. [a]
budaya, Featured, humaninterest, perempuan, sejarah
RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah
Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradaranya.
Film bergenre drama musikal ini mengangkat kisah tentang kehidupan anak
jalanan.
"Rumah Tanpa Jendela" yang disutradarai Aditya Gumay dirilis pada 24 Februari lalu. Film ini diangkat dari cerita pendek karya Asma Nadia berjudul Jendela Rara. Film ini dibintangi Raffi Ahmad dan Yuni Shara.
Pemutaran dan Diskusi Film tersebut digelar Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh ini berlangsung di Gedung Sultan Selim II, Kamis (10/11). "Film ini sangat ringan dan penuh pesan moral," kata sang sutradara Aditya Gumay kepada Waspada, kemarin di Banda Aceh.
Kata dia, "Rumah Tanpa Jendela" memotret fenomena sosial nasib tragis anak–anak jalanan yang kurang kasih sayang dan perhatian orang tua sehingga anak berusaha untuk menemukan jati diri dan kehidupannya melawan kerasnya kehidupan di jalanan.
Aditya menjelaskan, setting dan pengambilan gambar dilakukan di daerah Jembatan Merah yang merupakan tempat kumuh dengan populasi anak jalanan terbanyak didaerah tersebut.
Kata Aditya, Banda Aceh adalah kota ke-11 di Indonesia yang melakukan pemutaran film "Rumah Tanpa Jendela". Kecuali itu, film tersebut juga sudah diputar di Hongkong dan Melbroune, Australia.
"Pelajar Australia sangat antusias sekali. Beberapa di antara mereka, katanya, jika sudah selesai pendidikan ingin berkunjung ke daerah kumuh tersebut untuk mengajarkan bahasa Inggris," kata pria kelahiran Jambi, 4 Oktober 1966.
"Rumah Tanpa Jendela", digarap cuma 10 bulan, ini berbeda dengan film-film sejenis yang penggarapannya bisa sampai bertahun-tahun. Meski sesingkat itu, akurasi pemeranan cukup detil digarap, terlebih harus memanfaatkan anak-anak sanggar yang dipimpin Aditya sendiri.
"Saya berharap kondisi dengan banyaknya film ber-genre horor komedi seks yang ada di tengah-tengah kita, akan sedikit berkurang, dengan film anak-anak seperti ini," katanya.
Sementara, Kepala BPSNT, Djuniat kepada Waspada menyebutkan, film yang mengetengahkan tema sosial secara ringan dan menyenangkan. "Film ini mengandung pesan moral yang sangat sederhana namun perlu ditanamakan kepada generasi muda," ujar dia.
Pada sisi lain, dia menyebutkan, lewat film tersebut, BPSNT menjadikannya sebagai salah satu upaya untuk menjawab isu degradasi moral anak bangsa. "Kita bisa memanfaatkan ini sebagai media informatif dan pendidikan," kata dia.
Dia berharap, agar kegiatan tersebut mampu membuka wawasan bahwa, filam tidak selamanya memuat pesan miring dan negatif. "Film juga dapat dijadikan media untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai moral, budi pekerti kepada generasi muda," sebut Djuniat. [a]
Foto: kompasiana
"Rumah Tanpa Jendela" yang disutradarai Aditya Gumay dirilis pada 24 Februari lalu. Film ini diangkat dari cerita pendek karya Asma Nadia berjudul Jendela Rara. Film ini dibintangi Raffi Ahmad dan Yuni Shara.
Pemutaran dan Diskusi Film tersebut digelar Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh ini berlangsung di Gedung Sultan Selim II, Kamis (10/11). "Film ini sangat ringan dan penuh pesan moral," kata sang sutradara Aditya Gumay kepada Waspada, kemarin di Banda Aceh.
Kata dia, "Rumah Tanpa Jendela" memotret fenomena sosial nasib tragis anak–anak jalanan yang kurang kasih sayang dan perhatian orang tua sehingga anak berusaha untuk menemukan jati diri dan kehidupannya melawan kerasnya kehidupan di jalanan.
Aditya menjelaskan, setting dan pengambilan gambar dilakukan di daerah Jembatan Merah yang merupakan tempat kumuh dengan populasi anak jalanan terbanyak didaerah tersebut.
Kata Aditya, Banda Aceh adalah kota ke-11 di Indonesia yang melakukan pemutaran film "Rumah Tanpa Jendela". Kecuali itu, film tersebut juga sudah diputar di Hongkong dan Melbroune, Australia.
"Pelajar Australia sangat antusias sekali. Beberapa di antara mereka, katanya, jika sudah selesai pendidikan ingin berkunjung ke daerah kumuh tersebut untuk mengajarkan bahasa Inggris," kata pria kelahiran Jambi, 4 Oktober 1966.
"Rumah Tanpa Jendela", digarap cuma 10 bulan, ini berbeda dengan film-film sejenis yang penggarapannya bisa sampai bertahun-tahun. Meski sesingkat itu, akurasi pemeranan cukup detil digarap, terlebih harus memanfaatkan anak-anak sanggar yang dipimpin Aditya sendiri.
"Saya berharap kondisi dengan banyaknya film ber-genre horor komedi seks yang ada di tengah-tengah kita, akan sedikit berkurang, dengan film anak-anak seperti ini," katanya.
Sementara, Kepala BPSNT, Djuniat kepada Waspada menyebutkan, film yang mengetengahkan tema sosial secara ringan dan menyenangkan. "Film ini mengandung pesan moral yang sangat sederhana namun perlu ditanamakan kepada generasi muda," ujar dia.
Pada sisi lain, dia menyebutkan, lewat film tersebut, BPSNT menjadikannya sebagai salah satu upaya untuk menjawab isu degradasi moral anak bangsa. "Kita bisa memanfaatkan ini sebagai media informatif dan pendidikan," kata dia.
Dia berharap, agar kegiatan tersebut mampu membuka wawasan bahwa, filam tidak selamanya memuat pesan miring dan negatif. "Film juga dapat dijadikan media untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai moral, budi pekerti kepada generasi muda," sebut Djuniat. [a]
Foto: kompasiana
Top 5 Popular of The Week
-
RATUSAN pelajar di Banda Aceh mendapat kesempatan menyaksikan Film Rumah Tanpa Jendela. Mereka juga berdiskusi langsung dengan sutradara...
-
BANJIR kembali menjadi momok menakutkan di Aceh. Kali ini wilayah Pesisir Barat Selatan. Dampaknya seperti sudah kita maklumi bersama. Ta...
-
SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spand...
-
"HAI Apa Lambak, ho ka treb hana deueh-deueh, --hai, Apa Lambak kemana saja sudah lama tidak kelihatan," begitulah sapaan seorang ...
-
ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca t...




