“Wagito bin Wagiman”

(Refleksi 803 Tahun Kota Banda Aceh)

JUDUL di atas tidak dikutip dari nama orang yang mungkin sedang menjadi pembincangan hangat korban tsunami. Dia bukan nama keusyik di pedalaman Aceh yang berangkat ke Jakarta menuntut pemekaran. Bukan pula koruptor yang lagi diuber polisi. Keduanya bukan juga korban tsunami yang memperoleh rumah ganda.


Memang, namanya kalah beken dibandingkan Kuntoro Mangkusubroto. Saya yakin, semua pasti maklum siapa lelaki bekas menteri itu yang akhir-akhir ini kerap di demo korban tsunami. Keduanya memang berbeda, meski mereka kelihatannya amat dekat dengan kita.

Namun di sini kita tidak mengungkit-ungkit soal orang nomor satu di lembaga rehab-rekon Aceh itu. Fokus kita lebih pada Wagito bin Wagiman. Semua penduduk di Kutaraja mengenali wajahnya, hanya mereka saja yang tidak kenal 'wajah' kita.

Wajar, sebab posisi kita dan mereka jauh berbeda. Meski bukan seperti langit dan bumi, tapi paling tidak jauhnya hampir samalah antar jembatan Pante Pirak dan Simpang Surabaya. Pun demikian, kita tak perlu mencaci, sebab dia sudah dipilih oleh penduduk di kota ini. Kecuali Kuntoro yang dipilih Jakarta.

Sebagai warga kota, sudah pasti kita menaruh harapan besar kepadanya. Harapan tersebut sudah pasti wajar. Mengingat mereka adalah pemimpin kita, karena itu saya kira biasa pula jika saya ingin menggores sedikit uneg-uneg sembari menyambut mentari 803 tahun kota ini.

Usia delapan abad lebih memang bukan umur yang pendek. Jika ditamsilkan dengan usia manusia, sudah dekat dengan ‘balikpapan”, kuburan maksud saya. Namun, kalau mengungkit soal keturunan, setidaknya sudah ada delapan turunan yang mendiami kota ini.

Karena itu, saya juga tidak tahu di mana keturunan 'kedelapan' Sultan Johan Syah, pendiri kota ini pada Jumat 1 Ramadhan 601 atau pada 22 April 1205 Masehi. Namun, yang pasti Wagiman dan Wagito tidak termasuk didalam generasi 'kedelapan'. Meski keduanya, termasuk generasi penerus di daerah yang terletak rata-rata 0,50 meter di atas permukaan laut.

Banda Aceh yang memiliki nama klasik Kutaraja memang kota tua pusaka raja. Namun sayang, kerutan di kota itu kini sudah tak berbekas lagi akibat dihayak gempa dan digilas gelombang gergasi. Itu terjadi saat maut tsunami menjemput warganya di Minggu pagi 26 Desember 2004 silam.

Kota tua itu mengalami kerusakan hebat. Kabarnya, kerusakan ini lebih dahsyat dari Hirosima di Jepang yang dibom tentara Sekutu pada 6 Agustus 1945. Setelah itu, Hirosima bangkit dari kehancuran. Hadi S. Alkodra, seorang guru besar di Institut Pertanian Bogor menggambarkan perubahan signifikan dari Kota Hirosima yang tadinya kota industri yang padat dan kotor. Katanya, sekarang Hirosima menjadi kota yang nyaman dan teratur karena konsistensi pemerintah kota dan respon positifnya terhadap daya dukung ekologi kota.

Pasca-musibah tsunami, kita berharap hal tersebut juga terjadi di Banda Aceh. Bukan tidak mungkin, sebab dunia pun sudah ikut merakit kembali Kutaraja dari puing yang berserak menjadi beton yang congkak. Makanya tidak heran, kalau kota Heilbronn, Jerman, Jeju di Korea dan Kota Apeldoorn menjadi begitu dekat dengan ibukota Serambi Mekkah ini.

Sebagai warga biasa, kita tidak meminta yang muluk-muluk. Yang kita harapkan kota ini sejuk dan rindang serta bersahabat kepada pejalan kaki yang tak lain rakyat kecil. Kita berharap lebih banyak 'jalan Belanda' di kota kita. Kenapa begitu, sudah terbukti 'jalan Belanda' lebih rindang dan tidak gersang seperti sekarang.

Pada sisi lain, sebagai sebuah ibukota provinsi, nyaris tak ada yang bisa dibanggakan dari Banda Aceh. Sebagai kota tua dia memang punya jejak sejarah yang membanggakan. Tapi semua itu nyaris jadi dongeng. Taman Sari Gunongan dan Putro Phang serta Pinto Khop, serta Kerkhoff hanya menjadi saksi bisu 'kejayaan' masa lalu.

Tapi, coba tatap sekarang. Setelah musibah tersebut, Banda Aceh tumbuh tak teratur dan gersang. Yang terjadi sekarang banyak lahan menjadi pertokoan. Sulit membedakan mana kawasan pemukiman dan yang mana pertokoan. Sebab semuanya sudah dihiasi rumah toko alias ruko.

Memang ini bukan monopoli kota Banda Aceh saja. Kota-kota lain di tanah rencong nyaris sama. Hanya Bireuen yang sedikit beda dan memberi warna. Karena Banda Aceh sebagai simbol dan ibu kota provinsi, maka wajar jika dia diteriaki dan dikritisi. Meski tata kota itu tak indah dan rapi, anehnya kita malah menikmatinya.

Jika merunut sedikit ke belakang, tentu saja kita juga menikmati sekali saat Walikota Banda Aceh yang ke-13, Drs Sayed Husein Al-Hajj menata kota ini penuh taman. Tanpa segan-segan, walikota yang 'bertahta' pada 1993-1998 ini turun sendiri dari mobil pick-up plus topi koboi menancapkan banyak bunga.

Dari 'taman-taman' itulah, Husen Al Hajj memetik hasil. Ganjarannya adalah dua kali Banda Aceh mendapatkan Adipura. Ini adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Bukan hanya itu, julukan lainnya yang ditabal warga dan media sebagai Wagiman alias walikota gila taman.

Nah, dengan isu pemanasan global atau global warming yang sekarang ini kian menghangat, sosok Husen Al Hajj seakan menjadi tokoh 'penyelamat'. Bukan cuma untuk menyelamatkan bumi, terlebih lagi dalam upaya melestarikan lingkungan. Tapi dengan syarat bukan bunga yang ditanam, tapi hutan kota yang harus disemarakkan.

Saat Banda Aceh dibawah kendali 'sulthan' Mawardy Nurdin, apa yang kita nikmati. Memang harus kita akui, perubahan itu tidak datang seperti kita membalik telapak tangan. Tapi, setidaknya upaya menuju ke arah sana harus terlihat sejak dini. Makanya tak mengherankan, jika kita menoleh Banda Aceh sekarang seperti sebuah kampung besar bernama kota.

Master plannya seperti tidak terkontrol. Perumahan dan pertokoan bisa tumbuh di sembarang tempat. Lapak dan kios kerap menerobos aturan-aturan yang sudah disepakati. Buktinya, kita biasa melihat bangunan merambah liar di mana saja. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi urusan sepele, karena bisa diurus belakangan. Oleh karena itulah, dia kemudian tumbuh tanpa konsep.

Ruas-ruas jalan yang dulunya kosong dan terbuka kini malah ‘menghijau’ dengan rumah toko. Masih syukur kalau bangunan yang berdiri itu seragam dengan corak keacehan atau arsitekturalnya yang berkarekter. Akan tetapi yang terjadi sekarang malahan sebaliknya. Banda Aceh tumbuh liar dengan beragam corak yang sudah pasti tak sedap dikedip mata.

Tak mengherankan, jika walikota sekarang juga mendapat gelar baru dari warga kota. Julukan yang sudah beredar pun beragam, mulai dari walikota gila kios (wagios) sampai walikota gila toko alias wagito. Kabar itu beredar juga dari mulut ke mulut dan menjadi penulis dengan Serambi Indonesia, tapi karena anda sudah membacanya, maka jadilah ‘rahasia’ kita semua.

Pada saat memperingati 803 tahun usia kota ini, tentu banyak orang yang berharap ada perubahan yang relevan dan signifikan, seperti kata Jero Kuwat dalam parodi Republik Mimpi. Bukan cuma dari segi pelayanan publik, dari segi view dan landmark pun seharusnya juga mampu menyuguhkan pandangan yang mengundang orang untuk berdiwana. Paling tidak para tamu yang berkunjung bisa merekam banyak kenangan di tanah yang sudah membuat kompeni Belanda jengah.

Baik itu kenangan sebagai kota tua yang sarat peradaban atau kenangan pahit sebagai ‘Kota Tsunami’ yang memilukan. Semoga ini menjadikan Banda Aceh sebagai kota sepanjang jalan kenangan, bukan Banda Aceh sepanjang jalan rumah toko. Betul tidak?

Opini ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia, 22 April 2008


No comments:


Top