Skull, Pecinta Persiraja

Suporter klub sepakbola biasanya identik dengan rusuh. Misal, sebut saja Bondo Nekad alias Bonek di Surabaya, Jackmania di Jakarta. Atau Hooligan di daratan Inggris dan Ultras di bumi Italia. Jika sudah rusuh, tentu kerugian begitu besar. Lalu, bagaimana dengan tanah Rencong?

Aceh juga punya komunitas untuk itu. Tapi mereka lebih santun dan realistis. Komunitas ini bernama Skull. Skull kependekan dari Suporter Kutaraja untuk Lantak Laju. Skull adalah pendukung Persiraja Banda Aceh, bekas Juara Kompetisi Perserikatan 1980.

Klub yang berdiri pada 1957 ini punya dua julukan, Lantak Laju dan Laskar Rencong. Hingga tahun 2004, bonden Kutaraja ini menjadi satu-satu klub yang bermain dilevel Divisi Utama Liga Indonesia dari Aceh. Sehingga namanya begitu kesohor.

Baru dalam dua tahun terakhir tampil dua 'adiknya' meramaikan ranah sepakbola Aceh. Dua 'saudara' itu tak lain, PSAP Sigli dan PSSB Bireuen. Ke depan akan tampil satu lagi yakni PSLS Lhokseumawe, yang sudah mengantongi jatah berlaga di kompetisi kasta nomor dua di negeri ini.

Skull sendiri sebenarnya masih hijau. Pasalnya, komunitas pendukung awak bola ini baru dibentuk pada 11 April 2007. "Jadi usianya masih sangat muda, baru hampir tiga tahun, jadi wajar kalau anggotanya masih sangat sedikit," ujar Teuku Iqbal Djohan, SE, penggagas Skull kepada Waspada, kemarin.

Kata dia, lembaga itu lagi bersama beberapa orang teman, yaitu segerombolan anak muda yang sama-sama menggilai klub Persiraja. Dalam kiprahnya mereka juga membentuk situs komunitas serta mengkoordinir anggota lewat jejaring sosial, facebook yang beranggotakan 3.332 orang.

Iqbal menyebutkan, para Skuller (sebutan untuk anggota Skull), siap berjuang dan berkorban apapun juga demi Persiraja. "Skull tak pernah disusui oleh siapapun, nggak perlu digendong, dan nggak perlu dipapah. Karena Skull mampu mandiri sampai saat ini, dan Insya Allah sampai seterusnya," urai Iqbal lagi.

Mereka pun menancapkan tekad dalam perjuangan mendukung Persiraja, tidak cengeng, mengeluh, merengek, dan tak asal protes. Kecuali itu, apapun konsekuensinya Skull selalu tegar dalam mendukung perjuangan para pemain Persiraja.

Karena itu, lantas kemudian muncul kalimat yang amat akrab di telinga para Skuller. Persiraja capek, Skull capek. Persiraja kepanasan, Skull kepanasan. Persiraja kehujanan, Skull kehujanan. Persiraja menang, Skull senang!

Iqbal Djohan juga menegaskan, Skull dibentuk tanpa agenda terselubung. "Skull bukan untuk mereka yang punya embel-embel tertentu, alias misi-misi terselubung, seperti mengumpulkan massa untuk kegiatan politik, mendekatkan diri dengan kalangan penguasa, dan bukan juga untuk mita peng (cari duit) dan sebagainya," tegasnya.

Kiprah Skull dalam setiap derap Persiraja terbukti berbeda. Mereka lain dengan Bonek yang mendukung Persebaya Surabaya atau Jackmania milik Persija Jakarta. "Skull bukan Bonek, tidak rusuh dan lebih realistis dalam menerima hasil setiap perjuangan anak-anak Persiraja," tambah Oki Rahmatna Tiba, seorang Skuller.

Kata dia, kalah dan menang dalam pertandingan biasa. Pihaknya siap kalah dan siap menang, tapi tentu saja berharap kubu Persiraja bisa selalu meraup poin penuh jika berlaga di depan pendukungnya. "Menang kami senang, dan kalah tak ada kerusuhan," katanya.

Memang ini dibuktikan Skull, ketika timnya dirugikan wasit saat bertanding di kandang sendiri, mereka tidak anarkis. Selain tidak mengubah hasil akhir, rusuh juga merugikan banyak pihak, mulai dari panitia pelaksana, managemen klub serta kemungkinan terkena sanksi dari institusi terkait.

Awalnya, bukan cuma Skull yang acap mengangkat moral dan semangat pemain Persiraja saat berlaga. Ada komunitas lain yang dalam beberapa tahun terakhir tiarap, yakni Laskar Rencong Mania. Dalam dua kompetisi terakhir mereka sudah jarang terlihat.

Pun begitu, Arsitek Persiraja, Anwar selalu memberi apresiasi kepada semua pecinta Persiraja. Bahkan dalam setiap kesempatan, dihadapan jurnalis dia selalu mengucapkan terima kasih kepada Skull dan masyarakat yang sudah mendukung skuadnya.

Begitu pula pilar Persiraja semacam Tarmizi Rasyid, Andria dan Abdul Musawir. Bagi pemain senior dan juga kapten tim, Tarmizi Rasyid, melihat skuller itu amat penting dalam menambah daya lecut di lapangan. "Dengan kata lain, mereka pemain ke-12 saat kami bertanding, jadi mereka juga amat penting," pungkasnya.

Atas dasar itu, mungkin saja kita harus dukung suporter yang santun dan tidak anarkis. Sebab, kalah dan menang adalah biasa dalam pertandingan. Bravo Skull, Glory Glory Persiraja...


No comments:


Top